Apr, 02 2019



Kompetisi Kebahagiaan

Author Idelia Risella


“Bukan tentang siapa yang menikah terlebih dahulu, tetapi tentang siapa yang lebih bahagia.”

 

Pernahkah kamu merasa cemburu melihat gambar bahagia kehidupan orang lain di media sosial? Aku cukup yakin kita semua pernah merasakannya. Mungkin sedikit bertanya, berapa banyak kartu keberuntungan yang ia miliki dalam hidupnya. Bahkan aku pernah sampai mengasihani diri sendiri. Seperti merasa tawa yang aku lihat memang tidak digariskan untuk hidupku.

 

Cukup menyedihkan jika aku ingat masa itu. Kebetulan, foto yang aku lihat saat itu adalah foto Nana Mirdad bersama dengan si suami super tampan, Andrew White. Tidak sampai di dalam pikiranku bisa bertemu dengan orang dengan profil nyaris sempurna seperti Andrew. Pertama, aku tidak merasa ada orang-orang seperti dia di sekelilingku. Kedua, aku cukup yakin bahwa kami berbeda kelas. Butuh waktu cukup lama hingga aku memutuskan untuk menutup telepon genggam dan menjalani kenyataanku. Aku masih ingat apa yang kupikirkan saat itu, “Tipe cowok seperti Andrew bukan kompetisiku.”

 

Kemudian di kantor; di tengah hari terik tepat sebelum makan siang, undangan pernikahan datang ke mejaku. Salah seorang rekan kerjaku hendak menikah. Aku memang bukan satu-satunya perempuan jomblo di ruangan saat itu, tapi entah mengapa pernyataan ini dilontarkan kencang ke arahku, “kapan giliran lo?” Pada saat itu, usia kesendirianku kira-kira 3 tahun. Kamu pasti bisa bayangkan betapa ngenes-nya keadaan hati dan perutku yang sama-sama lapar. Belum lewat tengah hari, aku sudah bisa membuat keputusan mantap. Aku butuh pacar! Sekarang juga!

 

Mungkin ide yang baik untuk mengisi perut terlebih dahulu agar pikiranku lebih jernih. Hari itu menu makanannya cukup enak. Nasi putih, ikan asin, sayur lodeh, dan rendang sapi. Sambil mengunyah makanan, aku dan beberapa teman duduk di area belakang di bawah payung lebar; di samping kolam renang (ya! Ada kolam renang di kantorku). Empat perempuan mulai bertukar cerita tentang gebetan atau pacar masing-masing. Aku sibuk menggaruk-garuk kepala ketika sampai giliranku untuk angkat bicara. “Aku mah jomblo karatan,” kataku. Kemudian semua tertawa dan aku merasa kalah.

 

Aneh, bukan? Sebagian besar dari kamu mungkin berpikir bahwa hal-hal sepele seperti ini tidak seharusnya mengganggu pikiran. Tetapi berulang kali hal-hal serupa terjadi. Perasaanku tidak kunjung membaik. Aku rasa normal saja jika aku semakin merasa ketinggalan dan menginginkan hal yang sama. Aku jadi merasa sangat butuh pacar.

 

Oke, mungkin hanya aku saja yang sedang PMS. Mungkin juga karena aku terlalu banyak berpikir. Tapi, aku cukup yakin bahwa bukan hanya aku yang sering mengalami ini. Pasti ada orang lain yang pernah merasa ‘ketinggalan’ sepertiku. Tidak hanya tentang urusan asmara. Bisa juga tentang karie, jumlah investasi atau sekedar hobi baru. Apapun topik perdebatannya, ini membuatku tidak bahagia.

 

Tunggu, tunggu...

 

Itu dia! Aku mulai menyadari bahwa ini bukan tentang kehidupan asmara saja. Ini bukan tentang pacar. Bukan tentang harta atau jabatan siapa yang lebih tinggi. Ini tentang siapa yang lebih bahagia! Ketika aku melihat foto-foto keluarga sempurna Nana Mirdad, melihat undangan pernikahan atau mendengar cerita teman-temanku, aku menjadi percaya bahwa hidupku tidak sebahagia mereka. Semakin aku percaya, semakin kurang bahagia aku merasa.

 

Bagaimana aku bisa menggambarkannya? Mungkin seperti sebuah kompetisi. Kita semua sedang berlari pada lajur masing-masing. Apa yang aku lihat saat merasa tidak beruntung adalah orang-orang yang berada dua atau tiga langkah di depanku. Kira-kira seperti mereka mencuri waktu maju lebih dahulu pada kompetisi yang aku ikuti.

 

Tetapi aku salah. Aku yang meletakkan mereka di sana. Percaya bahwa hidup mereka lebih bahagia dari aku, sama saja dengan diam di tempat dan membiarkan mereka berlari di depanku. Akan terasa semakin buruk ketika aku tidak lagi mampu mengejar mereka. Seberapa kencang pun aku berlari dari titik ini nanti, mereka akan terus berada di depanku.

 

Jika ini benar sebuah kompetisi, aku memiliki dua pilihan. Pertama, aku bisa keluar dari kompetisi dan membiarkan semua orang mencapai garis akhirnya. Kedua, fokus dan berlari dengan semua kemampuan yang aku miliki. Tetapi sepertinya, keluar dari kompetisi bukanlah opsi yang cocok untukku. Aku ingin mencapai garis akhir itu, yaitu puncak kebahagiaanku. Aku harus fokus dan terus berlari, menjalani semua hari-hariku dengan kemampuan yang aku miliki yaitu talenta, karier, hobi, teman-teman, dan semua yang aku miliki dalam hidup.

 

Perlu diingat bahwa kompetisi kebahagiaan ini berbeda dari kompetisi yang lainnya. Tidak ada gelar juara yang akan diberikan pada siapapun. Semua orang bisa mencapai puncak kebahagiaan yang sama. Letak perbedaan hanya ada pada lajurnya alias cara kita mendapatkan kebahagiaan. Jadi aku pikir, jika aku melihat ke kanan dan menemukan Nana Mirdad bahagia dengan keluarganya, aku tidak seharusnya memusingkan hal itu. Aku punya petualanganku sendiri. Kita semua bisa merasakan bahagia yang sama (bahkan persis sama) dengan cara yang sangat berbeda.

 

Aku tidak perlu pria tinggi, bertubuh besar penuh otot. Aku tidak butuh pacar. Aku juga tidak perlu menikah besok. Bukan itu yang aku butuhkan. Aku butuh merasa bahagia. Jika aku harus berkompetisi dengan orang lain untuk menjadi bahagia, aku akan melakukannya dengan caraku sendiri. Agar besok saat makan siang, aku punya ceritaku sendiri. Aku akan dengan penuh semangat aku ceritakan karena aku bahagia!

 

Ilustrasi oleh Febi Ramdhan @febiramdhan

 
 

TAGS :   hubungan   percintaan   cinta   asmara   romansa   pasangan  


Booking.com