Apr, 25 2019



Santapan Sehat untuk Hubungan Sehat

Author Dominique Diyose


Seperti halnya memenuhi kebutuhan gizi dalam tubuh seseorang, pemilihan makanan yang bernutrisi sangat dibutuhkan.  Begitu juga dalam hubungan dua pribadi. Komunikasi yang bergizi amatlah penting demi terjalinnya harmonisasi jangka panjang kedua insan.

 

Bahasa adalah akar dari semua hal dalam hidup. Tentu saja maksudnya adalah pengertian bahasa dalam arti yang luas tidak hanya terbatas pada berbicara dan menyampaikan pesan. Ilmu komunikasi yang juga merupakan cabang dari bahasa itu sendiri menjadi esensi dalam kehidupan baik dalam pekerjaan, kehidupan sosial dan terutama dalam hubungan berumah tangga. Saya menyadari betul bagaimana cara komunikasi yang menyimpang dapat sangat berisiko untuk menghancurkan hubungan dua orang yang hidup bersama.

 

Bahasa cinta pun sangatlah luas. Tidak hanya dalam kadar mengatakan “saya cinta kamu” secara harafiah namun dalam kadar bagaimana menyampaikan rasa cinta tersebut dalam kemasan topik dan diskusi yang tetap dapat mempertahankan unsur-unsur kimiawi yang dilepaskan oleh tubuh dan diserap oleh sang pasangan. Pada pernikahan pertama, saya merasa santapan yang kami masak dan hidangkan tidak sesuai. Kami mungkin sudah mengerti resep yang akan dimasak tetapi kami tidak memperhatikan bahan-bahan yang kami pakai untuk menciptakan rasa yang nikmat di lidah. Sepertinya bahan-bahan yang kami gunakan tidak melalui proses pengukuran yang tepat serta kurangnya tingkat kematangan sehingga saat diicip terasa tidak pas.

 

Kami memang masih sangat muda saat memutuskan untuk menikah dan membangun rumah tangga. Mabuk kepayang dengan bahasa cinta yang kami punya, mungkin. Sampai-sampai kami tidak memikirkan panjang apakah unsur kimia yang dimiliki sekuat itu untuk bertahan lama. Komunikasi kami sebagai pasangan suami istri terbilang kurang baik, kurang bergizi. Kami menikmati waktu-waktu manis bersama tetapi terasa kurang berkualitas. Mulai dari topik diskusi yang menjadi bahan pembicaraan hingga cara penyampaian diskusi tersebut kepada satu sama lain. Belum lagi dengan sangat berbedanya prinsip hidup —yang menurut saya harusnya seimbang meski tidak harus benar-benar sama dan sejalan.  Itulah yang membuat kami akhirnya hanya dapat bertahan dalam kurun waktu singkat. Santapan yang tidak sehat, kurang sedap, dihasilkan oleh bahan-bahan yang kurang berkualitas, metode yang kurang jitu serta kemampuan memasak yang terbilang amatir menjadi alasannya.

 

Belajar dari pengalaman tersebut, pernikahan kedua yang melahirkan sang buah hati, tentu saja amat berbeda. Kedua koki lebih berpengalaman, pernah merasakan asam garam di bidangnya. Sama-sama pernah berada di dapur yang kurang sehat mengantarkan kami pada penemuan-penemuan resep inovatif dalam dapur kami sekarang ini. Mulai dari pemahaman tentang dunia di dalam dan di luar kami berdua, hingga keterlibatan satu sama lain dalam (hampir) semua hal. Tiap hari, kami menyiapkan hidangan berkualitas untuk didiskusikan. Tidak melulu membicarakan tentang hubungan, keluarga atau anak kami saja tetapi juga membicarakan topik yang umum diberitakan. Mulai dari politik, seni, hingga lingkungan. Persepsi kami tidak terus sama. Yah, tidak mungkin ada dua orang yang selalu memiliki persepsi yang sama, bukan? Tapi (lagi-lagi belajar dari pengalaman) kami berusaha untuk mengulas rasa hidangan kami dengan bijak. Jika memang ada yang kurang pas, kami menyampaikannya dengan hati-hati, dengan komunikasi yang baik. Jika memang tak bisa menghindari situasi yang intens, kami pun belajar untuk mengambil waktu dan memahami bahwa kami harus tetap berkompromi untuk mencari solusi bukan untuk mengedepankan ego.

 

Misalnya saja ketika suami pulang agak malam, saya menyempatkan untuk tetap ngobrol. Menanyakan bagaimana harinya hari itu disusul dengan pemberian diskusi tentang satu topik di luar kehidupan kami berdua. Termasuk pemberian ide-ide kreatif sebagai respon pada pekerjaannya. Begitupun suami pada saya. Kami saling bertukar inspirasi yang mungkin tidak ada hubungannya dengan percintaan atau rumah tangga. Kami berusaha untuk memberikan peran yang berbeda-beda satu sama lain. Satu waktu jadi suami-istri, lain hari jadi teman, kemudian jadi kakak-adik atau bahkan seperti orang tua pada anak. Peran-peran tersebut dimainkan dalam kehidupan sehari-hari kami sebagai pemenuhan kebutuhan.

 

Mendapatkan cinta itu semudah mengatakan cinta. Tapi mempertahankan cinta itulah yang sangat sulit. Dibutuhkan orang yang benar-benar berkehendak untuk bekerja keras demi rasa cinta itu sendiri. Usaha-usaha yang dilakukan juga bukan sekadar materi atau pemenuhan jasmani saja melainkan rohani di mana rohani di sini bukan terbatas pada agama tetapi pada hal-hal yang spiritual, yang berhubungan dengan jiwa. Itulah santapan yang sehat untuk hubungan yang sehat.

 

Ilustrasi oleh @maria_alethea

Baca juga: A Simple Hi Could Turn Your Life Upside Down


TAGS :   hubungan   cinta   pernikahan   pasangan   this is real    


Booking.com