May, 10 2019



Sungguh Tidak Akan Main Tinder Lagi

Author Idelia Risella


Yang dimulai dengan mudah, berakhir saat pagi masih basah. Langkahmu saat tersesat malah jadi petunjuk arah yang tepat.

 

Untuk orang yang sangat sibuk dengan pekerjaan, aplikasi kencan seperti Tinder atau Setipe mungkin jadi “mainan” yang lazim ada dalam telepon genggam. Saya juga pernah menjadi salah satu pengguna setianya. Sangat setia hingga tidak ada satu haripun saya lewatkan tanpa menggeser jari saya pada layar alias swiping.

Kebetulan, saya adalah orang yang sangat terbuka dengan konsep kopi darat alias ketemu langsung. Menurut saya tidak ada ruginya. Jika ternyata orang yang saya temui adalah orang “kurang waras”, saya hanya tinggal pergi dan melupakan hari itu pernah terjadi. Tetapi jika terjadi sebaliknya, bukannya itu akan jadi memori yang menyenangkan?

Saya masih ingat percobaan pertama kali, menjumpai orang asing yang ditemukan lewat Tinder. Ada beberapa pertimbangan yang saya pikirkan sebelum memberanikan diri keluar dari rumah. Saat itu saya sedang berada di luar kota, jauh dari rumah. Saya juga sedang tidak berada di lingkungan yang familiar, jadi tidak perlu ada yang tahu hal ini pernah terjadi. Satu-satunya sabuk pengaman saya saat itu adalah seorang sepupu yang kebetulan tinggal tidak jauh dari kafe tempat saya dan orang asing ini akan bertemu.

Penampilannya tidak seburuk yang ada dibayangkan —cenderung sukses sebenarnya. Ketika kami ngobrol selama kurang lebih dua jam, saya bisa menyimpulkan bahwa ia adalah orang yang pandai. Saya terbuai dalam keseruan mengenal orang asing. Rasanya seperti membaca buku petualangan yang belum pernah dibaca siapapun sebelumnya. Tidak ada kisi-kisi. Saya bisa terkejut dan terbuai, tanpa ekspektasi.

Lalu apa yang terjadi dengan pria itu sekarang? Entahlah. Siapa yang tahu tentang keberadaannya setelah ia menghilang begitu cepat. Kurang dari satu minggu setelah kencan keempat kami. Mungkin ia tidak menyukai saya, mungkin ia mulai bosan dan bisa jadi ia menemukan perempuan lain yang lebih menyenangkan. Tapi, saat itu saya benar-benar bingung. Saya tidak menyangka ada orang yang bisa semudah itu pergi. Saya bersumpah, tidak akan pernah main Tinder lagi.

Saya berkata pada diri saya, “Ini omong kosong! Tentu saja semua ini bisa terjadi karena dia orang asing. Dari kecil kita diajarkan untuk tidak boleh percaya pada orang asing. Lihat apa yang saya lakukan?! Lagipula, tidak ada cinta sejati datang dari aplikasi semacam ini.

Kemudian saya menutup akun Tinder sampai kira-kira satu minggu kemudian. Jujur hidup saya rasanya amat hambar. Tanpa disadari, saya malah bukannya duduk manis menonton televisi namun justru melihat katalog pria-pria haus dan menggeser foto mereka ke kanan, ke kiri. Lalu tanpa pikir panjang saya kembali membuat janji kopi darat lain dengan pria berbeda dari aplikasi yang sama. Astaga!

 

“JIKA DIA BISA MENEMUKAN ORANG LAIN DAN PERGI DENGAN MUDAH, SAYA JUGA!”

 

Sama seperti pertama kali saya menemukan pemain aplikasi kencan, yang satu ini pun sangatlah mudah! Saya bisa lompat ke hati lain hanya dengan satu usapan jari. Bahkan—tidak bermaksud pamer—saya bisa match dengan 100 pria berbeda dalam 1 hari jika saya mau. Kemudian saya berpikir, saya jadi tidak perlu terlalu sakit hati. Hal ini sudah biasa terjadi dalam dunia kencan online. Jadi, saya terus melakukannya. Saya bertemu dengan banyak orang. Tidak dalam satu waktu tentunya (saya akan cerita tentang pengalaman-pengalaman lucu saya di lain kesempatan).

Tanpa diduga, tibalah waktunya saya menemukan si berlian dalam tumpukan jerami. Dia sempurna! Saya juga tidak bisa membayangkan sebelumnya bahwa saya bisa menemukan orang seperti dia lewat sebuah aplikasi. Secara konstan saya langsung memberi penilaian tanpa dasar:  Wajah 10/10, fisik 10/10, kepribadian 9.5/10, humor 10/10 dan selera humor 7.5/10.

Angka yang tidak buruk bukan? Ditambah kemudahan menemukan orang tersebut. Sekitar dua hari kami chatting lewat aplikasi, kami lalu memutuskan untuk bertemu. Hubungan kami saat itu bisa dibilang mimpi yang jadi kenyataan. Ya, tidak hanya saya saja yang berkata demikian. Semua teman kami pun berpikir yang sama. Untungnya, tidak seperti percobaan sebelumnya, hubungan kami lalu bertahan hingga hampir satu tahun.

Kali ini saya merasakan patah hati yang berbeda. Meskipun saya bertemu dengannya lewat aplikasi yang sama dengan pria-pria sebelumnya, saya merasa lebih kosong. Nyatanya, saya selalu sedikit merasa lebih kosong sehabis kehilangan seseorang yang berasal. Semakin lama semakin parah.

Setelah kejadian itu, jari saya berjuang lebih keras untuk menemukan penggantinya. Kadang-kadang jika yang kanan sudah letih, saya menggunakan jempol kiri atau bahkan jari kaki. Tapi tidak juga dapat memuaskan rasa penasaran saya. Mengapa?

Butuh waktu lama hingga saya memutuskan untuk sepenuhnya berhenti bermain Tinder. Saya kembali pada cara lama. Saya mendedikasikan waktu saya untuk bertemu dengan teman-teman dan berinteraksi dengan orang-orang baru lewat kegiatan di luar kantor. Saya merasa lebih segar setelah beberapa waktu. Meskipun saya merasa tidak berdaya  karena tidak lagi memegang kontrol dalam kehidupan asmara ini. Saya tidak aktif mencari dan saya dibiarkan tidak tahu tentang kapan dan bagaimana saya bertemu dengan Si Dia nanti. Namun saya merasa senang dengan hari-hari yang saya jalani. Ya, saya sedikit tersesat. Saya tidak tahu bagaimana cara menemukan seseorang. Tidak ada sistem yang membantu saya. Tapi yang jelas saya merasa dunia ini lebih luas.

 

“MUNGKIN SAJA APA YANG DIMULAI MUDAH, BERAKHIR SAAT PAGI MASIH BASAH”.

 

Mungkin saja itu bukan cara yang digariskan untuk saya. Malah langkah-langkah yang saya buat ketika tersesat jadi petunjuk arah yang tepat. Satu tahun kemudian, saya memulai hubungan baru dengan seorang teman. Seseorang yang saya sudah kenal lama dan sejujurnya, rasanya jauh lebih nyaman dan aman.

Selain itu, saya jadi mengerti apa itu Tinder—atau aplikasi lainnya, adalah sebuah tempat pertemuan. Sama halnya seperti sekolah, tempat kerja, kafe, restoran atau tempat komunitas berkumpul. Sayangnya, banyak orang yang terlalu asik dengan kesibukannya dan terlena dengan kemudahan. Lupa meluangkan waktu untuk mencari keintiman hubungan lewat berteman. Duduk bersama dan bertukar pikiran. Menginvestasikan waktu berkualitas untuk saling mengenal dan menjalin kedekatan.

Kalaupun kita bertemu dengan seseorang dengan bantuan teknologi modern, saya rasa penting untuk diingat bahwa ada kenyataan di luar benda kecil dalam genggaman kita. Mulailah membangun hubungan karena memulainya ternyata sudah cukup mudah.

 

Ilustrasi oleh: @yeluyelu_

Baca juga: First I Left My Family Then He Cheated on Me

 

TAGS :   hubungan   percintaan   tinder   pasangan   kencan online   pacaran  


Booking.com