May, 10 2019



Antara Pria dan Kuasa

Author Aulia Meidiska


Dipublikasikan pertama kali di greatmind.id

 

Pernah tidak merasa kita sebagai wanita kadang seringkali terlalu menjadikan diri sendiri sebagai korban pria? Banyak dari kita menganggap pria itu hanya seonggok daging penuh nafsu akan hasrat dan kekuasaan. Tapi apa pernah terlintas di pikiran kita mengapa pria itu identik dengan kekuatan? Yah memang, pria dan kuasa adalah hal yang saling berkaitan. Tak dapat terpisahkan. Namun pertanyaanya sekarang adalah apakah itu bakal alam mereka atau sebenarnya kita wanita memiliki andil membentuk karakter mereka di mana meninggikan mereka di atas kita? Sampai-sampai banyak wanita seringkali mewajarkan dan berkata:  “Yang namanya pria memang begitu, tidak heran kalau mencari wanita selingkuhan jika tidak puas di ranjang..”


Coba diingat-ingat, ungkapan pembenaran apa lagi yang sering kita ucapkan di kehidupan sehari-hari sehingga seolah-olah memperlihatkan pria lebih berkuasa. Faktanya ketika kita mempercayai stereotip gender semacam ini kita sama saja mendorong pria untuk berselingkuh dan mempergunakan hawa nafsunya tanpa rasa bertanggung jawab saat mereka sudah memiliki pasangan. Hasilnya? Ketika perselingkuhan terjadi wanita melabelkan dirinya korban dan menghakimi pria yang sepenuhnya bersalah.


Namun jangan salah paham soal apa yang hendak dibahas di sini. Saya bukan ingin membela pria dan menyalahkan wanita. Bukan, bukan. Saya hanya ingin sedikit menggelitik pikiran wanita-wanita di luar situs ini untuk mempertanyakan mengapa ya pria begitu identik dengan kepemimpinan dan kekuasaan? Mengapa kebanyakan dari pria itu haus akan berada di atas kita: wanita?


Secara tidak sadar masyarakat membentuk pria untuk menjadi sosok yang kuat dengan cara yang amat sederhana yaitu pemberian kepercayaan bahwa pria itu harus kuat, tidak boleh cengeng. Apabila pria menunjukkan sisi sensitifnya mereka biasanya diolok. Dianggap lemah seperti wanita. Tentu saja konteks ini mengacu pada konotasi negatif. Menanggapi perspektif tersebut, pernah tidak terlintas bahwa secara tidak sadar stereotip inilah yang membuat para pria harus menyangkal setiap kali merasakan sesuatu, setiap kali menaruh perasaan yang dalam? Mungkin juga kan pandangan ini yang dapat membuat pria haus akan “kekuatan” sebagai dogma untuk dimiliki dalam hidupnya.


Seperti yang tertuang pada buku The Hite Report on Male Sexuality oleh Shere Hite, pria kebanyakan memiliki masalah kedekatan dengan ayah mereka. Umumnya para ayah mengajarkan anak laki-laki mereka untuk terlibat dalam kompetisi demi membuktikan “kekuatannya”. Saat mereka menangis, mereka akan dimarahi habis-habisan. Apalagi saat berbuat salah mereka bisa mendapatkan kekerasan fisik. Hal ini bahkan dilakukan secara sengaja dalam rangka membentuk mental sang anak pria agar dapat menjadi laki-laki sejati. Hasilnya? Semua perasaan emosional dan sisi sensitif pria seakan-akan harus ditelan bulat-bulat dan tidak boleh ditunjukkan.


Baru-baru ini Netflix mengiklankan film orisinilnya yang berjudul Extremely Wicked, Shockingly Evil and Vile, diperankan oleh aktor kenamaan Amerika, Zac Efron. Film ini diangkat dari kisah nyata yang menceritakan tentang kekejian seorang pria pembunuh dan pemerkosa di Amerika Serikat. Sepanjang sejarah kriminal Amerika, Ted Bundy adalah kasus pemerkosaan yang amat kompleks dan sungguh menjadi teror di masyarakat selama beberapa tahun. Ditemukan Ted Bundy telah memperkosa, membunuh dan memutilasi hingga lebih dari 30 wanita.


Mengapa film ini dapat dihubungan dengan pembentukan paradigma para pria? Seluruh proses observasi kasus Ted Bundy dapat menjadi salah satu contoh nyata yang menampilkan keterkaitan stereotip pada pria dengan dampak negatif yang diakibatkan oleh stereotip tersebut. Ted Bundy mengalami gangguan psikologi di mana sedari kecil ia tidak mengetahui sosok ayah kandungnya sehingga harus diasuh oleh kakeknya yang penuh dengan kekerasan. Kurangnya kasih sayang dari ibunya yang juga sempat tidak ingin melahirkan Ted ke dunia.  Penyangkalan demi penyangkalan hidup dalam dirinya. Sehingga ia pun terbiasa menyangkal afeksi di dalam diri dan dari orang lain karena dianggap dapat melemahkan karakternya.


Dijelaskan pada buku The Hite Report on Male Sexuality dimana maskulinitas seorang pria terletak pada paradigma tentang kekuatan. Juga bagaimana emosi, perasaan bukanlah faktor yang penting untuk dipikirkan karena pria harus rasional bukan spiritual atau emosional. Dampaknya sungguh terlihat pada kasus Ted Bundy. Dia kesulitan mengungkapkan perasaan kecewa dan sedihnya karena tidak mengetahui ayah kandungnya, kesulitan memproses sisi sensitifnya karena terdapat degradasi afeksi di masa kecil, kurangnya kedekatan dengan orang tua kandung. Di sisi lain, yang dia tahu adalah bagaimana mengumpulkan “kekuatan” untuk dapat mengontrol keadaan.


Secara tidak sadar Ted merasa kekuasaan adalah cara bertahan hidup. Sehingga secara tidak sadar ia menerjemahkan pengertian “kekuatan” dengan merenggut nyawa wanita —yang dianggap lebih lemah. Dalih untuk merasa kuat dan memiliki kuasa akan orang lain.


Meski tetap saja tidak ada satu alasan logis yang dapat membenarkan apa yang telah dia perbuat, tapi kasus Ted Bundy ini dapat menjadi sebuah pelajaran bagi kita —terutama bagi pria. Kita harus mulai menyadari betapa pentingnya kita harus mulai meruntuhkan stereotip yang salah kaprah dan membuahkan mitos-mitos baru di masyarakat. Berhentilah menyangkal perasaan atau afeksi yang kita miliki dan merasa gengsi untuk mengungkapkannya pada orang yang kita sayangi. Sebaliknya mulailah tunjukkan apresiasi pada pasangan dengan hal-hal kecil. Sekecil berkata: “kamu cantik”, atau “terima kasih ya sudah menemani aku ngobrol”. Ungkapan-ungkapan sederhana inilah yang membantu kita (terutama pria) dapat mengapresiasi dirinya sendiri sebagai manusia.


Kalau ada yang bilang: action speaks louder than words, saya pikir sekarang keduanya harus seimbang karena memang tidak ada perkataan yang meyakinkan tanpa perbuatan begitupun sebaliknya. Tidak ada salahnya kok mengucap hal-hal manis pada pasangan. Meskipun seorang wanita bilang “ah gombal” dalam hatinya akan tetap berbunga-bunga kok. Asal ucapan itu diungkapkan benar tanpa unsur omong kosong ya

 

Ilustrasi oleh @febiramdhan

Baca juga: Tanda-Tanda Dia Menyukaimu


TAGS :   pria   stereotip gender   hubungan   cinta   psikologi    


Booking.com