Nov, 06 2019



Politik dalam Bercinta

Author Zoya Amirin


Dipublikasikan pertama kali oleh greatmind.id

 

Meski banyak yang berkata bahwa hubungan itu bukan permainan tetapi secara tidak sadar menjalin hubungan itu penuh dengan hal-hal politis. Bagaimana bisa? Ingat tidak saat kita (para wanita) berpura-pura orgasme untuk menyenangkan hati para pria sehingga mereka dengan alasan untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka. Ingat juga ketika bagaimana para pria mencoba merayu wanita untuk berhubungan badan meski mungkin sebenarnya sang wanita sedang tidak ingin. Nah, inilah praktek politik dalam hubungan seksual.

 

Bukan hanya saat bercinta saja tapi mulai dari masa pendekatan, ketika sudah resmi hingga akhirnya memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Perilaku politik selalu menyertai dalam perjalanan. Tetapi jangan kaitkan arti politik ini secara literal karena politik memiliki arti yang amat luas. Tidak hanya soal hukum perdata dalam elegi pemerintahan tapi sesimpel menyusun strategi untuk bernegosiasi demi mendapatkan keinginan pun dapat didefinisikan sebagai perilaku politik. Kita tidak akan sadar — atau sadar tetapi tidak mau mengakuinya — ketika berpolitik dalam romantisme. Akan tetapi “kekuatan” yang kita miliki saat berhasil mengontrol situasi sesuai yang kita atau pasangan inginkan itulah yang sebenarnya dibutuhkan dalam kehidupan berpasangan terlebih terkait dengan masalah seksual.

 

Saat awal berhubungan, misalnya. Kita harus jujur terhadap pasangan akan orientasi seksual yang dimiliki. Apapun itu bicarakanlah dengan membuka ruang untuk mencari solusi. Namun jangan selalu berharap bahwa kita akan bertemu dengan seseorang yang berpandangan selaras soal seks. Pada dasarnya setiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang semua hal. Tidak perlu soal seks, soal pemilihan makanan saja bisa menjadi masalah jika tidak ditemukan solusi bertemu di tengah.

 

Akhirnya politik dalam seks itu berarti negosiasi dan kompromi. Mengapa? Sebab jika kedua pihak bisa mengkomunikasikan kebutuhan masing-masing dengan baik, permasalahan hubungan yang banyak diakibatkan tidak bertemunya pemahaman akan kebutuhan seks satu sama lain dapat dihindari. Jadi seperti politik di pemerintahan, undang-undang dikeluarkan untuk memberikan kebiijakan pada masyarakat demi menjaga keseimbangan kehidupan bermasyarakat.

 

Begitu pula saat misalnya kita memiliki gairah yang tinggi soal seks tetapi tidak dapat berhubungan. Benar adanya bahwa seks itu bisa diibaratkan seperti obat-obatan terlarang. Aktivitas seksual dapat memberikan efek kecanduan karena hormon dopamin yang dilepaskan oleh tubuh. Hormon dopamin berpengaruh pada perasaan gembira dan saat sistem dopamin aktif tubuh kita seakan terbang ke langit ketujuh. Itulah yang akan dirasakan selagi beraktivitas seksual. Tapi sebagai pribadi yang intelek kita pasti paham kecanduan itu tidak pernah berakhir baik. Sesuatu yang berlebihan tidak akan menuntun pada kebahagiaan. Lalu bagaimana caranya untuk dapat mengontrol gairah kita yang berlebihan? Berpolitiklah dengan diri sendiri.

 

Berikan pemahaman atau sugesti bahwa dopamin yang dilepaskan saat melakukan aktivitas seksual akan maksimal jika kita melakukannya dengan investasi emosi di dalamnya. Bayangkan perasaan bahagia yang dirasakan nantinya akan berlipat ganda saat kita melakukan aktivitas seksual dengan seseorang yang dicintai. Itulah mengapa menunggu sejenak hingga bertemu dengan orang yang layak mendapatkan investasi emosional dan seksual akan membuat penantian tersebut tidak sia-sia.

 

Ketika kita bisa mengendalikan gairah dan berkompromi dengan diri sendiri dan/atau pasangan untuk mencapai keseimbangan, itulah yang membuat kita memiliki kekuatan lebih. Berarti bahwa kita telah melancarkan strategi politik yang jitu untuk diri sendiri.

 

Ilustrasi oleh @maria_alethea

Baca juga: Antara Pria dan Kuasa

 

TAGS :   hubungan   hubungan percintaan   seks   cinta   pasangan    


Booking.com