Nov, 06 2019



Berdamai dengan Diri

Author Aulia Meidiska


Memutuskan sebuah hubungan bukanlah perkara mudah. Begitu pun move on. Pada saat mengalami putus hubungan seseorang dapat merasakan tingkat kesedihan yang berbeda-beda. Meskipun begitu tidak ada satu pun putus hubungan yang tidak menyisakan kesedihan. Putus hubungan adalah hal buruk dan bohong jika seseorang tidak merasakan apa-apa atau baik-baik saja. Apalagi jika hubungan yang telah dilalui adalah hubungan yang cukup lama dan serius. Di dalamnya tentu saja terdapat berbagai hal yang menguras emosi, baik hal-hal menyenangkan ataupun tidak. Kita sudah berinvestasi secara emosional di sana.

 

Yang seringkali kita lupakan saat putus hubungan adalah untuk menyediakan waktu untuk mengolah semua pengalaman dan emosi yang dirasakan. Sebagian orang berpikir putus hubungan berarti membuka diri selebar-lebarnya untuk berangkat ke tujuan baru. Untuk membuka lembaran baru dengan orang lain demi mempercepat hilangnya rasa sakit. Ya memang menjalani hubungan baru bisa membuat kita seakan-akan menyembuhkan luka di hati. Tapi pernahkah terpikir bahwa itu semua hanyalah pelarian? Bahwa kita hanya menyangkal kalau kita sudah baik-baik saja?

 

Terburu-buru ingin move on adalah bentuk kompetisi kita dengan Sang Mantan. Secara tidak sadar kita ingin menunjukkan bahwa tak lagi bersama dia tidak memberikan pengaruh besar untuk kita. Namun sama saja ini bentuk manipulasi diri di mana kita membohongi perasaan yang sebenarnya. Mungkin saja bukan perasaan ingin kembali atau masih menginginkan tetapi perasaan yang menolak untuk merasakan kesedihan dan kekecewaan. Lalu pengaruhnya apa jika kita terburu-buru ingin melupakan semua emosi di masa lalu tersebut?

 

Paling utama tentu saja ketidakpuasan. Jika kita kemudian langsung beralih ke orang lain dan memulai hubungan dengannya biasanya kita akan banyak membandingkan. Ini terjadi karena sebenarnya ada yang belum selesai antara kita dan Sang Mantan. Itulah mengapa pengalaman bersama yang lalu masih sering diingat, dirasakan, sehingga sering terbawa ke hubungan yang baru. Bayangkan misalnya kita mengalami tulang retak di pergelangan tangan. Belum benar-benar pulih kita sudah bermain bulutangkis. Apa yang akan terjadi? Pasti makin memperburuk kondisi tangan, bukan?

 

Memberikan waktu pada diri sendiri, untuk mengolah semua perasaan yang timbul akibat putus hubungan dapat menjadi dokter paling mujarab. Terlebih lagi jika kita mulai memahami untuk berdamai dengan diri sendiri. Inilah obatnya. Kita manusia sering enggan menyadari hal yang tak kasat mata, yang tidak nampak jelas. Seringkali kita hanya fokus pada apa yang dapat ditangkap oleh indera. Kita tidak memperhatikan seberapa pentingnya kita harus menyelesaikan masalah dengan diri sendiri dulu. Seberapa kita belum bisa berdamai dengan diri sendiri yang mengakibatkan sulitnya berdamai dengan orang lain.

 

Dulu setelah putus hubungan saya seringkali lupa untuk berdamai dengan diri sendiri dan kebanyakan menjadikan diri korban akan hubungan tersebut. Saya merasa sayalah yang selalu disakiti, selalu menyalahkan pasangan. Pernah juga saya menyalahkan diri sendiri begitu dalam hingga sulit mengembalikan kepercayaan diri untuk menerima orang lain masuk ke dalam hidup saya. Hingga suatu saat saya menjalani Hipnoterapi dan diperkenalkan dengan Perdamaian Diri.

 

Sang terapis membaringkan saya kemudian meminta untuk saya memenjamkan mata dan membuat tubuh relaks. Lalu saya diminta untuk memberikan nama berbeda pada kedua tangan. Nama yang berasal dari nama saya sendiri. Sang terapis memegang tangan yang kanan dan menaruhnya di atas tangan kiri dan menyuruh nama yang diberikan pada tangan kanan meminta maaf pada nama yang diberikan pada tangan kiri. Pertanda untuk saling memaafkan. Tentu saja ini juga sebagai simbol untuk saya memaafkan diri sendiri. Memaafkan atas apa yang telah saya lakukan pada diri sendiri yaitu memberikan kesedihan pada diri sendiri ketika menyudahi hubungan.

 

Terlepas dari siapa yang memutuskan dan diputuskan, kita kadang tidak sadar bahwa kita terlibat dalam menciptakan kesedihan pada diri sendiri. Banyak hal dalam pengalaman berhubungan tersebut membuat kita berperang dengan diri sendiri. Mulai dari enggan memaafkan Sang Mantan hingga berpikir impulsif untuk lari dari rasa sakit. Itu semua sebenarnya adalah bentuk kita menghukum diri sendiri. Bentuk pertahanan diri. Saat kita sudah berdamai dengan diri sendiri sebenarnya adalah saat kita tidak menolak saat merasa sedih. Saat kita tidak berusaha untuk mencari distraksi (baca: mencari pasangan baru) hanya karena tidak bisa sendirian.

 

Saat kita sudah berdamai dengan diri sendiri kita dapat dengan sabar membiarkan hati dan pikiran mengolah perasaan-perasaan tersebut hingga puas, berhenti dan siap melanjutkan hidup. Butuh waktu panjang untuk saya akhirnya berkata: “Saya rela, saya pasrah dengan keputusan yang menyedihkan itu.” Butuh waktu panjang untuk saya akhirnya berani berkata jujur pada diri sendiri tentang apa yang saya sebenarnya inginkan hingga berani menghidupi masa kini dan menjadikan masa lalu sekadar masa lalu. Tapi memang itu yang saya butuhkan: WAKTU.

 

Baca juga: Gairah Politik dalam Bercinta

Ilustrasi oleh: @aldillalaras

 


TAGS :   hubungan   move on   pasangan   kisah cinta   relationship   love  


Booking.com