Nov, 06 2019



Berbagi Keterbukaan

Author Inez Kristanti


Dipublikasikan pertama kali oleh greatmind.id

Apa sih yang paling sering menjadi masalah dalam hubungan percintaan? Rasa-rasanya jawabannya adalah komunikasi. Bayangkan jika semua orang pintar berkomunikasi mungkin tingkat perceraian akan sangat rendah. Tidak bisa dipungkiri memang, komunikasi adalah salah satu faktor penting keberhasilan sebuah hubungan percintaan. Seringkali pasangan kesulitan mengungkapkan perasaan mereka masing-masing karena kurangnya strategi tertentu dalam berkomunikasi. Satu dan lain hal dikarenakan mereka yang enggan mengatakan yang sebenarnya untuk mencegah perselisihan. Sebagian lainnya masih berpikir komunikasi hanyalah sekadar sebuah penyampaian informasi. Padahal sebenarnya komunikasi tidak hanya berarti soal memberitahukan pesan tetapi juga mendengarkan pesan. Itulah yang terkadang kita lupakan atau sebenarnya dipahami namun sulit dilakukan.

 

Komunikasi dua arah adalah kunci hubungan yang sehat. Biasanya seseorang terlalu ingin mengemukakan pendapatnya saja hingga tanpa disadari memotong. Ada juga yang mengira hubungan yang sehat itu soal komunikasi yang amat sering. Padahal belum tentu. Komunikasi dua arah untuk hubungan yang sehat bukan semata-mata kita harus hadir dan siap sedia layaknya Unit Gawat Darurat, 24 jam sehari namun juga memahami betapa kita harus bisa menjaga privasi pasangan. Dalam artian memberikan batas-batas tertentu agar pasangan tetap memiliki ruang individunya.

 

Meskipun begitu, setiap orang memiliki kadar privasi itu masing-masing yang keduanya harus diskusikan agar tidak terjadi kesalah-pahaman. Ada pribadi yang butuh ruang sendiri lebih banyak sehingga tidak begitu menyukai balas-balasan pesan online setiap saat. Saat bertemu pasangan yang memiliki karakter seperti ini ada baiknya kita sendiri mengerti bahwa ketika dia sedang tidak bisa berkomunikasi dengan kita bukan berarti dia sudah tidak peduli atau tidak sayang. Jika kita sudah bisa mengolah perasaan yang tenang, aman dan percaya maka kita tidak akan terganggu dengan komunikasi yang berjalan. Bicarakan dari awal tentang seberapa banyak pasangan kita membutuhkan waktunya sebagai individu. Juga komunikasi seperti apa yang paling nyaman untuk kedua belah pihak. Kemudian saling berkompromi jika memang ada yang perlu disesuaikan.

 

Berpasangan itu memang seharusnya terbuka akan tetapi perlu juga memperhatikan konteks keterbukaan tersebut. Sebaiknya kita tidak memberikan harapan pada pasangan untuk selalu ada kapanpun dibutuhkan. Sampai-sampai kadang kita mengganggu kesibukan dia dengan hal sepele yang sebenarnya bisa kita selesaikan sendiri. Ini justru dapat menuntun kita untuk membangun ketidakpercayaan di mana muncul ketika sesuatu berubah pada perilakunya. Pertanyaan-pertanyaan negatif dalam pikiran pun bisa sering muncul seperti: “jangan-jangan dia selingkuh?”, “jangan-jangan dia sudah tidak sayang?”. Hindari rasa ketergantungan yang berlebihan karena itu akan menghambat untuk belajar menyelesaikan persoalan kita sendiri sebagai seorang individu.


Penting juga untuk kita menjaga keseimbangan dalam berkomunikasi. Kita harus pintar-pintar memilah mana hal-hal yang harus dan baik disampaikan mana yang kita simpan untuk menjaga keseimbangan hubungan agar pasangan dapat menjalani kehidupannya sebagai individu. Akhirnya hubungan pun dapat terhindar dari fakor-faktor negatif dan membuat kita dan pasangan lebih bahagia. Kita perlu memahami pentingnya pemikiran: “saya bisa tetap bertahan dan berfungsi dengan baik meski tanpa pasangan.” Jangan lupa untuk melengkapinya dengan sikap saling menghormati privasi yang disimpan itu demi mempertahankan hubungan jangka panjang.

 

Satu hal lagi yang perlu diingat adalah bagaimana kita dapat tetap memperhatikan hal-hal yang disimpan sendiri. Kita harus peka mana hal apa dapat membahayakan hubungan contohnya jika ada seseorang yang menaruh perhatian lebih pada kita selayaknya ingin mendekati. Atau misalnya kita merasa cara kita berbicara pada seseorang sedikit menggoda. Jangan sembunyikan hal-hal yang mungkin menimbulkan masalah ini. Ajaklah pasangan kita berdiskusi dengan baik seperti sedang melakukan evaluasi hubungan yang dapat dibuat secara berkala, semisal sebulan sekali. Pada evaluasi hubungan kita bisa mendiskusikan apa yang sudah berjalan baik, apa yang belum sehingga meminimalisir kemungkinan terjadinya perselingkuhan.

 

Pada dasarnya seseorang berselingkuh karena adanya masalah pada hubungan. Ada rasa tidak puas. Hampir tidak ada perselingkuhan yang disengaja. Semuanya berawal dari ketidaksengajaan. Awalnya bisa karena tidak-bisanya kita mengungkapkan masalah yang dirasakan pada pasangan kemudian malah memberitahukannya pada orang lain. Berkembanglah pembicaraan tersebut yang kemudian mengarah ke tahap flirting dan lama-lama beranjak ke hal lain. Kala diskusi terbuka tersebut terjadi, pasangan akan lebih kuat dan bersatu menemukan solusi permasalahan dalam hubungan. Akhirnya, kita dan pasangan lebih mudah mendapatkan kesepakatan untuk menyelamatkan hubungan.

 

Jika dalam satu waktu kita secara tidak sengaja berselingkuh tapi memutuskan untuk memperbaiki dengan pasangan, ada baiknya untuk mengakui kesalahan tersebut. Pada dasarnya keputusannya berselingkuh bisa terjadi karena adanya permasalahan dalam hubungan. Tak berarti dapat menjadi alasannya berselingkuh, tetapi faktanya dia mau kembali dan memperbaiki hubungan harus dibicarakan secara jelas. Berada dalam diskusi dengan orang ketiga (dengan profesional) dapat sangat membantu agar tidak memicu keadaan yang lebih buruk. Bisa-tidaknya dilanjutkan, keputusan tersebut akan muncul saat komunikasi terbuka itu terjadi dan seberapa kuat kita dengan pasangan.

 

Baca juga: Berdamai dengan Diri Sebelum Mulai Hubungan baru

Ilustrasi oleh @maria_alethea

 


Booking.com