Jul, 12 2019



Filosofi Keputusan dalam Hubungan

Author Jovial & Andovi da Lopez


“Sangat sulit untuk membuat keputusan yang baik ketika gelasmu setengah kosong.” - Jovial da Lopez

 

Bicara tentang membuat keputusan dalam hubungan memang selalu aneh dan sulit. Sejatinya hubungan itu memang sulit. Bagaimana kita dapat membuat sebuah keputusan dengan sadar? Artinya dilengkapi dengan pengetahuan lengkap dan tanpa tekanan dari sekitar kita. 

 

Sejujurnya, tidak ada keputusan yang dibuat murni karena diri kita sendiri karena terbentuknya semua keputusan pasti ada turut campur dari banyak hal di sekitar kita. Ini yang membuat kita selalu bingung ketika hendak membuat keputusan. Terutama di dalam hubungan yang mengharuskan kita untuk selalu memikirkan keadaan dan perasaan pasangan kita.

 

Tetapi yang penting diketahui adalah bahwa kita akan sangat sulit untuk membuat keputusan ketika gelas kita setengah kosong. Artinya kita belum cukup pengetahuan, kedewasaan, kestabilan emosi, dll. Orang-orang yang setengah matang hanya akan membuat keputusan-keputusan yang setengah matang. Jika kita berada di dalam hubungan dan kita ingin untuk membawa hubungan ini ke tingkat yang lebih lanjut, pastikan bahwa kita sudah matang. Kita harus matang, pasangan kita juga harus matang. Setelah itu, kita siap membawa hubungan ini ke level yang lebih tinggi. 

 

Ada yang pernah bilang, jika masing-masing pihak di dalam sebuah hubungan (kita dan pasangan) diibaratkan gelas. Keduanya perlu penuh untuk membuat hubungan ini berhasil. Jika salah satu gelas setengah kosong, seperempat atau bahkan kosong sama sekali, setiap kali yang satunya berusaha mengisi, ia akan menjadi kosong pula. Jadi keduanya harus dewasa.

 

Dalam arti lain, hubungannya tidak bisa berat sebelah. Akan sulit untuk membuat keputusan-keputusan yang selalu harus mengikuti perasaan pasanganmu. Jika begitu, hubungan ini bisa jadi buruk. Hubungan dimana kedua belah pihak dapat berpikir sama baiknya adalah hubungan yang luar biasa. 

 

“Di satu sisi, gelas yang penuh itu juga sangat Utopia. Kita tidak pernah tahu kapan gelas kita akan penuh. Semua jadi hanya teori dan emosi.” - Jovial da Lopez

 

Tetapi gelas penuh itu apa? Bagaimana kita yakin bahwa gelas kita sudah penuh?  Semuanya jadi hanya teori dan emosi. Untuk menyederhanakannya, selalu berfokuslah pada kebahagiaan jangka panjang. Meskipun masa depan sangat tidak pasti, tetapi buatlah keputusan berat untuk kebaikan 5-10 tahun ke depan dan bukan hanya kesenangan sesaat. Karena semua keputusan yang kita buat dalam hubungan pasti berhubungan dengan emosi kita dan pasangan. Pastikan bahwa emosi itu adalah bahagia. 

 

“Ketika kamu berusaha membuat keputusan yang baik, berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain.” - Andovi da Lopez

 

Lalu, sekarang coba kita perhatikan lingkungan sosial dimana kita hidup. Kita berada di masyarakat yang selalu tahu apa yang orang lain lakukan. Kita diberikan akses untuk selalu membandingkan diri kita dengan orang lain, dalam hal ini hubungan pasangan lain. Mungkin tanpa kita sadari, kita juga membuat keputusan-keputusan dalam hubungan berdasarkan hasil perbandingan itu. 

 

Misalnya ketika ada yang berargumen, “masih ingat tidak dengan hubungan si doi sama si itu?” atau, “dia dua tahun pacaran kemudian menikah, kok, kita belum?”

 

Berhenti membandingkan hubunganmu dengan hubungan lain atau keputusanmu dengan keputusan orang lain. Karena kemungkinannya bisa jadi sangat baik atau malah jadi sangat buruk. 

 

Setiap hubungan berbeda. Ini benar-benar perlu dicatat. Semua hubungan itu berbeda dan unik. Untuk itu, dari pada sibuk membanding-bandingkan, lebih baik bangun komunikasi yang lebih baik dengan pasangan. 

 

“Ketika berusaha membuat keputusan, diskusi dahulu dengan pasangan kamu kemudian baru buat keputusan,” - Andovi da Lopez

 

Ada perspektif yang mengatakan, “keputusan itu dibuat lewat diskusi dan komunikasi dengan pasangan.” Misalnya untuk menikah. Contoh pertama, si pria berkata pada si wanita, “sayang, aku mau menikah sama kamu.” Dia sudah membuat keputusannya.

 

Contoh kedua, si pria berkata pada si wanita, “sayang, kita diskusi, yuk! Aku ingin menikah. Bagaimana denganmu? Apa yang kamu inginkan? Bagaimana menurutmu?” Contoh kedua berusaha berkomunikasi terlebih dahulu sebelum membuat keputusan. Walaupun si pria sudah tahu apa yang dia inginkan, tetap terjadi komunikasi. 

 

Akhirnya, membuat keputusan tetap membingungkan. Tetapi yang penting diingat, kunci hubungan adalah saling melengkapi. Love is a two way street. Tidak seperti pria yang mengatakan siap menikah dan wanita hanya menerima saja karena memang harus menikah. Keduanya sama-sama punya hak untuk memilih dan membuat keputusan, saling berkomunikasi tetapi tidak saling memaksa.

 

Ilustrasi oleh @maria_alathea

Baca juga: Apakah Kita dan Dia Hanya Main-Main

 


Booking.com