Nov, 06 2019



Memberikan yang Terbaik

Author Idelia Risella


“Mungkin dia tidak setuju, tapi itu bukan alasan untuk meninggalkanku”

 

Seberapa cocok kamu dengan pacar, suami atau istrimu? Cocok sekali hingga kalian tidak pernah melakukan hal yang tidak disetujui oleh dia? Kalau jawabanmu, ya, kamu luar biasa beruntung. Sementara saya punya sejuta alasan yang siap untuk dijadikan bahan berdebat bersama pasangan. 


Mulai dari hal-hal sepele seperti kesukaan saya makan tengah malam yang menurutnya sangat tidak sehat (dan memang sebenarnya dia benar) hingga hal-hal besar seperti pekerjaan apa yang saya ingin lakukan berikutnya. Selalu banyak tidak setujunya! Entah karena memang tidak suka atau tidak mengerti. Saya pun begitu pada dia. Sudah tidak terhitung banyaknya saya mengerutkan dahi atas keputusan-keputusannya.


Pertanyaanya, mengapa hubungan ini tidak cepat diakhiri saja? Banyak sekali tidak cocoknya! Jawabannya, karena dia hanya mau yang terbaik untuk saya. Cara saya melakukan banyak hal bukan cara yang dia mengerti. Tetapi cara ini yang terbaik untuk saya dan dia menghargai hal itu. 


Kalau dalam Bahasa Inggris kira-kira istilahnya, he only has my best interest at heart. Artinya, dia peduli dan sayang sama saya, sehingga dia hanya mau hal yang terbaik untuk saya. Hanya itu saja. 


Ya memang, mungkin diantaranya terjadi banyak perdebatan dan bahkan pertengkaran. Terutama ketika dia mengungkapkan ketidak-setujuannya dan saya membela diri. HAHAHA sering terjadi! Tetapi tidak jarang juga, semua itu berakhir dengan dia berkata, “apa yang bisa aku lakukan untukmu sekarang? Adakah yang bisa aku bantu?” 


Dan pada saat itulah, saya mengerti bahwa dia tidak bermaksud menghentikan langkah saya. Tidak juga ingin menenggelamkan saya, apalagi memaksa saya untuk jadi sama sepertinya. HE’S MY BIGGEST FAN! Dia adalah penggemar terberat saya. 


Wajar saja jika pasangan kita kadang tidak setuju, tidak mengerti dan perlu sedikit diskusi (dan mungkin ciuman dan rayuan sedikit HEHE). Karena pada dasarnya kita dua orang yang berbeda. Punya cara yang mungkin tak selalu sama. Hanya saja tetap bertahan karena keduanya enggan menyerah. 


“Hubungan bertahan karena keduanya enggan menyerah dan mereka bahagia”


Terkadang, dukungan moral itu sudah cukup untuk membuat kita merasa aman dan nyaman. Seperti tenaga baru untuk terus berjalan. Mungkin agar kamu lebih yakin memilih cara mendukung pasangan kamu, pelajari lagi 5 bahasa cinta dan temukan bahasa pasanganmu. Bisa jadi bentuknya uluran tangan, kata-kata pujian, atau kehadiranmu saja cukup. 


Catatan dari saya, tentang ketidak-setujuan dan dukungan ini: jangan main comot dan tempel untuk semua kasus. Ada kasus-kasus beracun alias toxic berkedok ‘peduli’ yang akhirnya membuat banyak orang terjebak. Ada cerita yang pernah masuk ke saya tentang seseorang yang selama bertahun-tahun menghukum pacarnya karena melakukan hal tidak dia setujui.


Pada awalnya dia membiarkan sang pacar melakukan keinginannya. Sambil tidak memberikan dukungan, fisik maupun moral. Setelah sang pacar melakukannya, dia berubah menjadi orang yang ketus bahkan kasar. Terus menerus menyalahkan si pacar karena dianggap telah menyakiti hatinya. 


Terus berkata bahwa dia sangat ‘sayang’ dan hanya ingin yang terbaik untuk si pacar. Tetapi meminta si pacar bertanggung jawab dan harus membujuk-bujuk dia terus agar memberi maaf karena ‘tidak mau nurut’ sekitar 5 tahun yang lalu. Akhirnya, hubungan mereka tidak bahagia. 


Mudah-mudahan kamu mengerti maksud saya. Jadi tidak bisa sembarang melakukan pembenaran, ya. Ini bukan permainan passive aggressive. “Ya sudah, lakukan saja! (tapi nanti BeTe)” Ingat, tujuan akhirnya adalah bahagia. Bukan hanya kebahagiaan kita tetapi pasangan juga. 


“Kami adalah penggemar terberat satu sama lain. Seluruh karya yang kamu buat adalah lukisan indah di mata saya. Untuk itu saya selalu mendukungmu!”


Semoga kita semua selalu damai dan bahagia! Peluk dan cium!

 

Ilustrasi oleh @arizuta

Baca juga: Filosofi Keputusan dalam Hubungan

 

 



Booking.com