Nov, 06 2019



Makna Dibalik Sapaan

Author Aulia Meidiska


Aku tidak pernah tahu seberapa kuat satu kata ini bisa sangat berpengaruh dalam hidup. Terutama jika kata ini dikirimkan oleh dia yang pernah memiliki hubungan.

 

“Hai.”, tulisnya pada pesan singkat di WhatsApp. Aku hanya bisa memandang layar selular dan tidak tahu harus membalas apa. Haruskah aku membalas pesannya atau benar-benar mengacuhkan dia? Kami sudah tidak berbicara cukup lama semenjak setuju untuk berhenti bertemu untuk (kalau bisa) selamanya. Bukannya tidak mau, tapi tidak bisa. Dia milik seseorang dan dia tidak memilihku untuk bersamanya. Sejujurnya aku sungguh bingung dengan apa yang dia lakukan padaku. Mengapa kami melakukan dosa terbesar ini jika pada akhirnya kami tahu akan sesakit ini? Mengapa sangat sulit untuk melepaskan diri dari seorang pria yang milik orang lain? Apakah semua karena aku merasa tertantang dan merasa ingin memenangkan kompetisi..jika bisa? Tapi..tidak. Aku tahu aku tidak akan menang. Aku tahu diri dan aku tidak akan pernah melakukan hal serendah itu pada wanita lain.

 

Aku masih menatap lekat-lekat layar telepon pintarku sementara di kepala ini beterbangan berbagai kata-kata untuk membalas pesannya. Mencari kata terbaik untuk membalasnya. Lalu pikiranku pun mulai menjelajah berbagai pertanyaan. Mengapa kata sesederhana “Hai” dapat memunculkan krisi pada hidup seseorang? Mengapa kata “Hai” dapat memberikan dampak yang besar jika kita membalasnya? Aneh, tapi nyata. Jika aku membalasnya dengan kata “Hai” juga, aku yakin kami akan memperpanjang pembicaraan dan mulai kembali bernostalgia. Siklus itu pun akan kembali terulang. Kami berbincang, bertemu, melakukan hal yang tak seharusnya kami lakukan, menangis karena menyesali perbuatan itu kemudian mengatakan selamat tinggal. Sungguh sebuah siklus berisiko.

 

Jawabannya cukup mudah sebenarnya. Tapi sulit dilakukan. Semudah tidak perlu kubalas pesan itu, kan? Tapi kenapa..kenapa jari-jari ini tidak dapat menjauhi layar telepon? Dan malahan membalasnya dengan kata “Hai”. Siklus yang tadi kutakuti pun kembali terulang hingga sampai akhirnya pembicaraan kami benar-benar usai ketika dia menikahi wanita pilihannya. Hingga akhirnya kata “Hai” itu tidak lagi pernah menghampiri dan membuatku haru menekan tombol block di semua aplikasi di mana ada nama dan kontaknya.

 

Kasus dengan kata “Hai” terjadi sedikit berbeda ketika aku bertemu seorang pria untuk sebuah alasan yang baik. Kami berdua single, sudah kenal sejak lama tapi tidak pernah bertemu seusai mengakhiri sekolah menengah. Namun kemudian kami kembali bertemu —entah bagaimana, seakan-akan memang si semesta ini ingin kami bertegur sapa setelah 15 tahun. Sebelum kami memainkan kekuatan kata “Hai” itu kami pun hanyalah dua pribadi yang mengetahui nama masing-masing dan sedikit tentang masa lalu. Tidak tahu soal kepribadian atau pengalaman hidup selama 15 tahun kami tak pernah bertemu. Tak lebih, tak kurang. Tapi kemudian, setelah pembicaraan panjang kami lewat telepon di tengah malam hingga pagi menjelang, kami justru memulai diskusi yang tidak pernah kami bayangkan akan diutarakan sebelumnya. 

 

Aku pun mulai menyapa dengan kata “Hai” setelah seharian tidak berkomunikasi dengannya. Kekuatan di balik kata itu pun seolah menggetarkan hatiku. Diikuti dengan senyuman lebar menunggu si dia membalas dengan “Hai”-nya. Ketika dia pun benar-benar membalas seperti yang kuharapkan perasaan tersebut seakan bukan lagi kejutan. Hatiku kian mencair, cukup asing tapi menyenangkan secara bersamaan. Seperti ketika ada musik sendu yang menenangkan kepala ketika membaca kata “Hai” darinya.

 

Aku selalu membayangkan bagaimana dia mengucapkan kata “Hai” itu. Apakah dengan nada yang lembut kemudian tersenyum dan memancarkan matanya sambil membaca namaku di halaman chat? Aku pun membayangkan bagaimana menyenangkannya saat dia memperlakukanku dengan penuh kasih sayang, membelai rambutku dan hendak mencium keningku. Seketika gelombang di antara kami pun berubah setelah dia membalas kata Hai-ku dengan kata Hai-nya. Semuanya berjalan lebih terarah seperti kami mengetahui perasaan masing-masing. Percikan asmara yang mulai muncul di tengah-tengah pertemanan kami.

 

Aku pun kembali mempertanyakan kekuatan di balik kata “Hai” ini. Mengapa kata yang simpel ini begitu bisa mengubah perjalanan seseorang? 

 

Baca juga: Dia Mau Yang Terbaik Untuk Saya

Ilustrasi oleh: @maria_alethea

 


Booking.com