Nov, 06 2019



Dilema Kekasih Lama

Author Opi Hanafi


Mantan kekasih terkadang tidak bisa benar-benar kita hapus dari jejak hidup kita: kita bertumbuh dengan mereka, belajar banyak dari mereka, pun mereka pernah merenda memori indah dengan kita. Terkadang setelah putus pun kita masih ingin tetap berkomunikasi, berteman. Tapi yang menjadi masalah adalah ketika kita memiliki hubungan baru dan si dia tidak menghendaki adanya pertemanan dengan sang mantan dalam bentuk apapun. Begitupun kita. Kadang kita seringkali tidak membebaskan pasangan untuk berteman atau berkomunikasi dengan mantan kekasih mereka. 

 

Fenomena ten year challenge beberapa waktu lalu telah memenuhi lini masa media sosial. aku melihat banyak sekali orang mempublikasikan foto mereka dari 10 tahun lalu. aku bukanlah seseorang yang mudah tertarik ikut-ikutan tantangan media sosial seperti itu. Tapi adanya topik ini membuat aku mengingat masa-masa 10 tahun lalu di mana ingatan itu termasuk ingatanku akan kekasih masa remaja. Saat-saat kami berada di Bali, dia menggendongku di punggungnya. Momen kami berperahu ke Lago Maggiore, Italia. Di sana kami bermesraan di atas perbukitan pulau. Kami berhubungan setelah aku kembali dari Indonesia. Dia adalah salah satu relawan sebuah organisasi sosial yang aku datangi untuk beradaptasi kembali dengan kampung halamanku setelah mengikuti program pertukaran pelajar. 

 

Kami jatuh cinta begitu mudah dan cepat. Sebuah hubungan yang indah. Kalau diibaratkan dalam cerita fiksi, rasanya seperti pada serial TV Hollywood Gilmore Girls di mana dia adalah Dean, kekasih pertama Rory. Kami amat bersenang-senang, membicarakan banyak hal dan keintiman kami pun sudah melangkah cukup jauh. Dia seringkali memberikan bunga, membuatkan kue, menuliskan surat bahkan meninggalkan kartu pos saat bekerja di bar hingga malam. Dia menonton film-film kesukaanku dan mengikuti keinginanku untuk pergi ke manapun. Tapi sepertinya itulah masalahnya: dia hanya mengikuti apa mauku saja. 

Jarang sekali dia berusaha untuk berinisiatif melakukan sesuatu. 

 

Ya, aku mengerti dia begitu bahagia bersamaku dan melakukan apa saja yang aku ingin lakukan karena dia bahagia hanya dengan bersamaku saja. Dia memperlakukanku layaknya puteri, namun aku justru bersikap seperti layaknya ratu jahat. Mudah sekali terganggu dengan hal kecil, menginginkan banyak hal dan sulit sekali puas. Aku bahkan bisa marah ketika dia berkomunikasi dengan para perempuan yang pernah dikencaninya karena merasa dia adalah milikku seorang. Tidak hanya itu saja, aku merasa tidak nyaman dengan merasa terganggu olehnya, dengan kepatuhannya padaku. Di sisi lain aku merasa bahwa kami tidaklah cocok. Dia memiliki masalahnya sendiri dan seiringnya waktu kami justru memperlihatkan sifat terburuk kami pada satu sama lain. Kami pun putus bukan hanya karena aku merasa amat bosan tapi dia juga tidak pernah “menantang”-ku. Tidak hanya itu saja, pemikiran kami tentang masa depan pun sangat berbeda kala itu. Aku menginginkan hal-hal yang menyenangkan, kebebasan. Dia sudah memikirkan soal pernikahan dan tanggung-jawab jangka panjang.

 

Kini sudah sepuluh tahun lamanya sejak pertama kali berhubungan dan delapan tahun setelah putus. Dia telah menikah dengan perempuan setelahku empat tahun lalu. Aku pun telah menikah dan memiliki satu anak. Semuanya baik-baik saja. Kami menghidupi kehidupan yang berbeda. Dia adalah bagian yang indah dari masa mudaku, dari masaku bertumbuh dan menjadi seorang wanita. Aku berkata seperti ini bukanlah karena ingin kembali padanya. Aku bahkan tidak ingin menjadi sahabatnya. Tapi aku tahu kami memiliki keinginan untuk bertegur sapa walau hanya sesekali. Pernah suatu kali kami bertemu di jalan dan semua terasa baik-baik saja. Kami bercanda, bertanya tentang kehidupan berkeluarga masing-masing. Kami pun bertegur-sapa lewat Facebook hanya sekedar bertanya apa kabar. Meski hanya sekali setahun -maksimum. 

 

Tapi aku tahu dia merahasiakan komunikasi kami: semua pesan dan pertemuan tak sengaja. Dia merahasiakan itu karena istrinya tidak menyukaiku. Dia mengira aku adalah serigala berbulu domba dan menyebarkan berita bohong tentangku ke teman-teman sepergaulan kami. Aku bahkan tidak tahu siapa dia, begitupun dia. Tapi sepertinya dia merasa aku adalah ancaman hubungannya. Sungguh sebuah tragedi, bukan? Kecemburuannya tidaklah beralasan. Aku tahu betul mantan kekasihku itu tidak mungkin selingkuh. Dia amat penurut. Dia mungkin menanyakan kabar lewat media sosial tapi tidak pernah dia sampai mengajakku keluar. Hal ini pun membuatku bertanya: mengapa kita sering menjauhkan pasangan kita dari mantan kekasih mereka? Aku juga begitu ketika bersamanya. Dan sekarang istrinya melakukan hal yang sama. 

 

Selalu ada alasan mengapa pasangan kita putus dengan mantan kekasihnya. Seperti juga mengapa dia tidak ingin kembali padanya. Tapi bagaimana pun juga mereka pernah ada dalam hidup satu sama lain. Aku dan sang mantan berbagi tawa dan cerita. Lalu mengapa kita justru menjauhkan pasangan kita dari interaksinya dengan manusia lainnya? Jika dia memang ingin berkomunikasi dengan mantan kekasih yang sudah tidak lagi memiliki perasaan apapun, kenapa tidak? Apalagi kalau dia adalah seseorang yang amat setia, seseorang yang dapat sangat dipercaya.

 

Istri mantan kekasihku “memegangnya” amat erat. Setidaknya itulah yang diceritakan teman-temanku. Sejujurnya aku tahu gaya hubungan seperti itulah yang dia selalu inginkan. Sebuah “rumah” yang aman, istri yang berdedikasi, hubungan yang tidak keluar jalur. Sebuah benteng yang amat sempit. Aku tak tahu apakah hubungan seperti itu yang dia butuhkan tapi aku tidak pernah mau menghakiminya (tentu saja). Tapi ada satu hal yang terus kupikirkan: pria sebaik dia seringkali berakhir dengan wanita yang mendominasi. Pria sebaik dia seringkali memperlakukan wanita layaknya putri tapi dia justru diperlakukan layaknya tahanan penjara, atau bahkan pelayan. Mungkinkah semakin kita merasa seseorang adalah milik kita, semakin kita merasa dia tidak boleh memiliki kehidupannya sendiri? Kehidupan yang tidak hanya berada di sekitar kita saja. Dan itu termasuk dengan menjauhkannya dari pertemanannya. Begitukah kita?

 

Ilustrasi oleh @maria_alethea

Baca juga: Ketika Dia Mengirim Sebuah Kata "Hai"



Booking.com