Nov, 06 2019



Sulitnya Hubungan Beda Suku

Author Anonim


Rasanya sudah bukan hal  yang tabu di Indonesia bahwa suku dan ras dapat menjadi persoalan besar dalam pernikahan. Apalagi jika suku atau ras tersebut berasal dari kelompok mayoritas. Aku berasal dari keluarga keturunan Tionghoa. Keluarga besar memang berharap agar aku menikah dengan seseorang dari keturunan yang sama. Tapi untungnya orang tuaku tidak demikian. Jadi ketika aku berhubungan dengan seorang pria dari suku Batak, Mama ?dengan pandangannya yang liberal, tidak keberatan. Sialnya tidak semua orang tua seperti Mama. 

 

Saat itu aku masih berumur 19 tahun. Baru saja menjajaki kehidupan universitas. Sang kekasih lebih tua 6 tahun. Aku tidak pernah berhubungan dengan orang Batak sehingga aku tidak pernah tahu bahwa tradisi suku tersebut sangatlah berperan dalam keseharian mereka. Aku memang berasal dari keluarga Tionghoa, suku yang tidak kalah kental dengan tradisi. Namun keluargaku tidak pernah benar-benar menerapkan ritual budaya Tionghoa kecuali pada Imlek. Tidak dengan keluarga si dia yang masih terlihat konvensional. Begitupun dirinya.

 

Pertama kali aku akhirnya paham budayanya begitu kental adalah ketika kami seringkali bertengkar karena prinsip budayanya yang tidak dapat aku mengerti. Ada seorang teman wanita kami yang memiliki marga sama dengannya tapi tidak sedarah bahkan tidak dalam satu keluarga besar. Aku sangat cemburu padanya karena kedekatan mereka yang menurutku terlalu berlebihan. Apalagi setelah mendengar wanita itu pernah menaruh perasaan terhadapnya. Dia bahkan mengakui perasaannya pada sang pria. Tapi karena mereka memiliki marga yang sama, mereka tidak bisa bersama karena dianggap masih satu keluarga. Mereka pun akhirnya seakan seperti saudara tapi teman. Sang wanita seringkali memeluk, mencium pipi bahkan sering meminta si pria menggendong di punggung. Mereka lengket sekali, ke mana pun bersama.  Setelah kami berhubungan, aku bilang padanya bahwa aku tidak nyaman dengan kedekatan mereka yang menurutku kurang wajar. Siapa sangka pengakuanku ini justru membuatnya tersinggung karena aku tidak menghargai wanita itu sebagai saudara semarganya. Dari sanalah aku pun mengerti bahwa dia adalah seseorang yang akan selalu menaruh keluarga di urutan pertama. Bahkan mereka yang tidak berada dalam pohon keluarga.

 

Lama kelamaan hubungan kami terasa amat tidak sehat karena memperdebatkan hal yang sama. Kami pun selalu bertanya-tanya apakah hubungan ini bisa dilanjutkan ke waktu yang lebih jauh atau tidak. Terutama waktu aku akhirnya tahu budayanya amatlah kuat. Ditambah dengan penemuanku bahwa keluarganya seakan tidak bisa menerimaku yang berasal dari suku lain. Suatu waktu aku diundang ke rumahnya, merayakan kelulusan kuliahnya. Situasi amat tidak nyaman karena tiba-tiba salah satu pamannya bertanya marga apa yang kupunya. Aku tertegun dan tidak bisa menjawab. Lirikkanku padanya seakan meminta tolong untuk menjawab pertanyaan tersebut. Seketika aku menjawab aku bukan orang Batak, dia tidak berkata “tidak apa-apa, marga tidak masalah”. Dia hanya pergi dan tidak bertanya apapun lagi. Pengalaman tersebut cukup membuatku sadar bahwa hubungan kami sangat rapuh dan bisa selesai kapan saja. Sebelum kami benar-benar menyudahi pun sudah sering aku melihat kami putus. Hubungan kami hanyalah soal dia memilihku atau keluarganya. Hanya itu saja. Dan tentu saja dia tidak akan memilihku. Aku pun tidak akan membiarkannya. Tidak bisa kubayangkan aku menjadi penyebab seseorang hidup menentang keluarganya sendiri. Melihat dia akan sangat menyesal memutuskan untuk bersamaku. Membuatku menjadi seseorang yang tak berperasaan. Tapi yah, cinta itu buta, kan? Aku pun seolah ingin tahu sampai batas apa aku bisa melewati hubungan tersebut dan meminta semesta memberikan tanda.

 

 Tanda yang kuminta pun benar hadir tidak lama setelah permohonan tersebut diucapkan. Tidak lama setelah ayahnya meninggal, dia menjadi seorang yang rapuh sekali. Butuh waktu yang panjang untuk mengembalikan hidupnya ke sewajarnya. Dari situasi ini aku menjadi dekat dengan salah satu anggota keluarganya. Dia adalah kakak ipar mantan kekasihku itu. Banyak ngobrol dengannya membuatku semakin yakin hubungan kami pasti akan berakhir pada waktunya. Dia berdarah campuran: Batak dan Sunda. Aku suka dengan sifatnya. Orang yang cukup menyenangkan. Hingga pada suatu kesempatan kami membuka diskusi soal bagaimana keluarga Batak kebanyakan berharap untuk tetap berada dalam lingkaran sukunya.

 

Dia: Aku mau bilang sesuatu tapi tolong biarkan ini di antara kita saya, ya?

Aku: Silahkan. Ada apa?

 

Dia: Aku tahu kamu adalah seorang yang baik dan tidak ada masalah dengan kepribadianmu. Tapi aku tidak sengaja mendengar kalau Mama kurang setuju akan hubunganmu dan adik ipar. Terutama karena suku kalian berbeda. Kamu tahu kan orang Batak punya banyak tradisi dan bagi orang yang bukan suku Batak biasanya sulit untuk memahami itu.

Me: Oh begitu? Lalu aku harus bagaimana?

 

Dia: Aku sebenarnya mau kamu lebih siap saja dengan segala kemungkinan jika kamu mau lebih serius dengan adik ipar. Keluarga kami mungkin akan minta kamu untuk pindah suku. Jadi kamu membeli marga untuk terus dapat ke jenjang pernikahan. Kalau memang kamu mau sampai ke tahap itu.

 

Tubuhku sekejap membeku. Aku tidak tahu apa yang harus kubalas. Mungkin inilah pertanda dari semesta. Tidak lama berselang aku pun berbicara dengannya soal perbedaan suku ini dan akhirnya kami memutuskan berpisah. Kala itu cukup sulit menerima keadaan hanya karena suku. Tapi aku merasa jauh hari sebelum hubungan kami usai aku sudah mempersiapkan diri. Dan pada akhirnya itulah epilog cerita kami. 

 

Aku tidak tahu bagaimana pendapatmu tentang cerita ini tapi bagiku tidak masuk akal rasanya ketika seseorang memintamu untuk pindah kepercayaan hanya untuk terus melanjutkan hubungan. Apalagi ini soal suku. Soal darah yang mengalir dalam tubuh kita. Begini, jika kamu seorang Muslim dan hendak pindah menjadi Kristiani kamu pada akhirnya akan dianggap sebagai orang Kristen bukan? Tapi jika kamu seorang Tionghoa bukannya kamu akan terus berdarah Tionghoa? Darah keturunan ini ada dalam nadi. Bagaimanapun caranya seseorang berusaha mengubah suku dan ras-nya tidak akan mungkin mengganti darah keturunannya.

 

Keputusanku mengakhiri hubungan pun tidak hanya berasal dari alasan perbedaan suku ini tapi karena isu rasisme yang terjadi. Di dunia yang sudah modern ini menjadi eksklusif dan superior hanya akan memicu terjadinya masalah. Adalah bonus jika kita bisa berakhir dengan orang yang lahir dari suku atau agama yang sama. Namun jika kita menjadikan hal tersebut prioritas utama mencari jodoh, apakah bisa menjadi jaminan kita bahagia? Bukannya hal terpenting yang kita cari di muka bumi ini adalah untuk bahagia?

 

Ilustrasi oleh @sabinaka

Baca juga: Keputusan Memilih Jodoh

 



Booking.com