Aug, 28 2019



Hubungan Kita Berkaca dari Orang Tua

Author Aulia Meidiska


Orang tua adalah manusia yang pertama kali kita lihat kala kita masih bayi, bahkan saat baru lahir. Kita melihat mereka ada di sisi kita, tersenyum dan berusaha berbicara meski kita belum mengerti. Seiring berjalannya usia kita pun mempelajari banyak hal dari mereka. Ketika belajar berbicara, kita mendengar mereka mengeja kata demi kata agar kita meniru. Begitu juga saat hendak berjalan dan makan. Mereka menopang tubuh agar kita bisa berjalan dengan sempurna dan membantu menyuapi makan untuk menunjukkan caranya. Sekarang kita pasti sudah tidak ingat pelajaran-pelajaran berharga dari mereka. Tapi tanpa disadari kita sebenarnya banyak meniru kelakuan, sifat dan kebiasaan mereka dalam menghidupi keseharian. Mereka seakan menjadi buku pedoman saat kita hendak menjalani kehidupan. Tapi sadarkah kita saat berbicara tentang hubungan asmara, kita pun meniru sifat, sikap bahkan cara mereka berhubungan?

 

Banyak orang yang orang tuanya bercerai memiliki kecenderungan untuk menghindari  komitmen atau kesulitan dalam berhubungan. Mereka mencoba amat keras untuk tidak seperti orang tua mereka. Sebaliknya ada juga pribadi yang justru menginginkan pasangan layaknya orang tua mereka atau berada dalam hubungan seperti hubungan kedua orang tua mereka. Ada pula mereka yang belum menyadari hubungan seperti apa yang ingin mereka jalani. Bagaimana dengan saya? Kasus saya sepertinya mengaitkan ketiganya.

 

Saya tumbuh di keluarga yang bercerai. Orang tua saya berpisah saat saya berusia 5 tahun. Papa sudah menikah beberapa kali sedangkan Mama hanya berhubungan dengan satu pria setelah perceraian. Papa tidak banyak tergambar dalam pikiran saya. Dia banyak kehilangan momen penting dalam hidup saya. Tergambar satu kata untuknya: Benci. Saya pun mengembangkan kata tersebut dari hari ke hari. Menciptakan sebuah ruang di mana keberadaannya berada di galaksi teramat jauh. Akan tetapi, di usia dewasa, saya menyadari bahwa tipe pria yang seringkali saya kencani adalah mereka yang mirip dengan Papa. Seseorang yang bisa bermain musik, atau menyukai film, atau merokok. Gambaran seorang bad boy. Sialnya ternyata rasa benci yang saya pupuk justru menjuruskan pada pembuatan kriteria pasangan. Kepribadian, karakter, kebiasaan hingga minat dan bakatnya menjadi kriteria utama saat mencari seorang pasangan. Tanpa disadari saya mencari seseorang yang terasa familiar.

 

Sebaliknya, Mama adalah seseorang yang amat setiap tetapi memiliki emosi yang mendalam. Dia penuh dengan awan gelap. Pengalaman hidupnya dapat disingkat dalam satu kata: Berjuang. Ketika dia mencintai seseorang, dia akan memberikan sepenuhnya untuk orang tersebut. Membuat sang pria layaknya Raja. Tetapi ketika bertengkar, layaknya granat, dia bisa membakar apapun yang ada di sekitarnya. Kemudian dia akan mulai memainkan peran sebagai korban, mendorong orang lain untuk merasa bersalah. Hubungannya dengan seorang pria yang kini menjadi “teman hidup” pun amat rumit dan seakan tidak akan ke mana-mana. Tapi dia tetap berjuang dalam hubungan tersebut.

 

Mendengar kedua sisi orang tua saya mungkin membuat saya menjadi pribadi yang kompleks kan? Betul sekali. Setelah berulang-ulang mencoba menjalani berbagai hubungan, saya memiliki banyak buah pikir dan observasi. Ternyata semua jawaban yang saya cari terselip di kedua orang tua. Tanpa disadari saya meniru hubungan kedua orang tua saya. Seperti Papa, saya memiliki banyak hubungan, mudah sekali tertarik pada pria. Saya pernah beberapa kali selingkuh dan menjadi selingkuhan. Sedangkan meniru Mama, saya tergolong pribadi yang penuh dengan emosi, amat sensitif. Sulit sekali untuk memiliki emosi yang stabil. Saya seringkali menjauhi orang karena merasa takut disakiti. Supaya tidak berakhir seperti Mama yang terlihat sering disakiti (terutama oleh Papa). Saya pun meniru kecemburuan Mama yang seringkali menunjukkan sisi posesif. Mungkin karena dulu sering melihat Mama berusaha menggali siapa orang ketiga dari pernikahannya. Hingga pernah kami berusaha menelusuri alamat wanita lain Papa.

 

Secara sederhana, saya tidak pernah mengerti apa itu hubungan sempurna. Selama 28 tahun saya selalu berada dalam ruang paradoks di mana saya berharap adanya drama. Saat semuanya berjalan baik-baik saja, saya seakan melakukan sabotase, mencari masalah. Saya selalu mencari kesalahan apa yang akan menyebabkan hubungan saya gagal. Saya enggan untuk memperbaikinya karena tidak mau berada dalam hubungan tidak sehat seperti yang dimiliki kedua orang tua tapi tetap bermimpi dapat bertemu dengan jodoh dan membangun keluarga bahagia, menjadi seorang orang tua yang baik. Setidaknya dengan menyadari faktor-faktor ini saya pun menjadi lebih peka terhadap apa yang terjadi pada hubungan saya saat ini. Bahwa tidak ada hubungan sempurna. Bahwa dengan mempelajari hubungan kedua orang tua saya, memahami karakter kedua orang tua, saya dapat mempelajari diri saya sendiri.

 

Ilustrasi oleh @febiramdhan

Baca juga: Keluarganya Memintaku Pindah Suku

 


Booking.com