Sep, 18 2019



Perceraian Mereka Adalah Pelajaran Berharga

Author Anonim


Aku percaya setiap pengalaman yang terjadi dalam hidup adalah pelajaran berharga. Termasuk kegagalan kedua orang tuaku di masa lalu. Tidak mudah rasanya mengalami dua kali perceraian. Pertama kali ketika aku masih anak-anak. Mungkin saat itu aku belum bisa memproses arti perceraian itu sendiri. Tapi yang kedua ketika aku berada di Sekolah Dasar. Keduanya tentu saja mempengaruhi berbagai aspek dalam hidupku. Sulit rasanya untuk menjelaskan bagaimana menjelaskan pengaruhnya karena terlalu banyak lapisan emosi yang tersimpan dalam ingatanku. Tidak banyak memori indah, sejujurnya, tapi banyak pelajaran hidup yang bisa kujadikan pedoman untuk menjalani hari-hari.

 

Namun aku menyadari bahwa bagaimanapun kita merasakan pengalaman berpisah, memiliki sejarah orang tua yang bercerai, rasanya kita akan belajar hal yang sama. Beberapa pelajaran itu akan membuatmu terlihat lemah bahkan putus asa, tapi seringnya pelajaran lainnya justru membuat kita menjadi seseorang yang lebih baik. Aku pun bertanya pada adik tiriku kala ibuku dan ayahnya bercerai, “bagaimana perasaanmu? Apa yang bisa kamu pelajari dari pengalaman ini?. Lalu kami pun menyimpulkan bahwa dalam perceraian mereka terdapat begitu banyak pelajaran yang dapat memotivasi kami menjalani hidup di masa kini dan masa depan.

 

Menjadi lebih kuat. Ketika kami melihat hubungan mereka mulai retak, kami belajar untuk menjadi pribadi yang kuat. Kami merasa lemah bukanlah jalan keluar karena terkadang kamilah satu-satunya yang mereka punya meski kami masih anak-anak. Kamilah sumber kekuatan mereka

 

Tahu kapan harus berkata cukup. Menyaksikan keruntuhan pernikahan orang tua membuat kami belajar tentang penghargaan diri. Tahu kapan harus berkata sudah cukup dan sementara menyisihkan waktu sejenak untuk pergi dari kericuhan rumah. Bukan untuk kabur atau menghindari masalah tapi tahu kapan berkata cukup akan keadaan yang mulai tidak sehat dan dapat memengaruhi mental.

 

Lebih berhati-hati. Perceraian faktanya dapat membuat kita lebih sensitif dalam menghadapi sebuah masalah. Isu ini mengajarkan bagaimana bisa memilih perjuangan apa yang ingin kami teruskan sehingga kami punya batasan-batasan tersendiri agar tidak mudah terjerumus pada kesalahan yang mungkin dicontohkan di depan mata. Kami pun menjadi pribadi yang selektif dalam berhubungan baik untuk hubungan asmara maupun pertemanan. 

 

Belajar tidak mudah menghakimi. Sebagian dari kita pasti mudah sekali menilai seseorang hanya dari tampilan luar, dari gaya berbicara, berpakaian hingga gerak-geriknya. Tapi kami sebagai anak yang mengalami perceraian orang tua merasa bahwa menghakimi orang hanya membuka ruang untuk mereka menghakimi keluarga kami. Sehingga kami pun belajar untuk lebih dapat menerima orang lain apa adanya. Tidak menaruh penilaian hanya berdasar pada bagian eksternalnya tapi justru mengenal lebih dalam untuk memahami setiap sisinya dari berbagai sudut pandang.

 

Menerima keadaan. Rasanya percuma jika kami terus-terusan berharap orang tua kami akan kembali. Berharap semuanya kembali ke normal. Yah, faktanya definisi normal pun sangat sulit dijabarkan. Akan lebih mudah untuk kami saat lebih bersyukur dan menerima apa yang sudah terjadi dan apa yang dialami. Menerima kondisi apapun detik ini, menit ini, jam ini.

 

Mudah beradaptasi. Mengatasi berbagai situasi yang berbeda dalam waktu singkat membuat kami lebih mudah “mencair”. Karena unsur penerimaan tadi kami jadi lebih mudah beradaptasi dengan hal baru, orang baru, pengalaman baru atau bahkan akhir yang baru.

 

Intinya adalah anak-anak dari rumah yang orang tuanya bercerai bukanlah individu yang berantakan. Pun bukan yang selalu merasa patah hati. Mereka justru pribadi-pribadi yang kuat. 

 

Ilustrasi: @febiramdhan

Baca juga: Hubungan Kita Berkaca dari Orang Tua

 


TAGS :   perceraian   orang tua   keluarga   pernikahan   cinta   hubungan  


Booking.com