Nov, 15 2019



Dia yang Membuatku Sulit Pergi

Author Katrin Figge


Dia sudah tidak lagi  ada di hidupku. Tapi rasa sakitnya masih membekas hingga sekarang.

 

Pernah dengar tidak istilah “Ketika berada di tengah-tengah pepohonan kita sulit melihat adanya hutan”? Terkadang sebuah tragedi baru bisa dilihat dengan seksama ketika kita melihatnya dari kejauhan. Berada di dalam sebuah hubungan dengan seseorang yang menderita Borderline Personality Disorder terasa jadi tugas yang amat berat. Aku mencobanya -tapi akhirnya, aku harus pergi demi keberadaanku sendiri.

 

Aku bisa bertemu mantan kekasih pertama kali karena ternyata kami memiliki teman yang sama. Awalnya aku sama sekali tidak tertarik padanya. Tetapi dia cepat sekali bisa mengubah pikiranku terhadapnya. Mungkin karena wajah dan senyum manisnya yang begitu menarik perhatianku padanya. Ketika dia melihatku, dia membuatku merasa layaknya malaikat, Suatu hari pernah dia menulis puisi dan catatan kecil di secarik kertas lalu mengajakku berlibur sejenak. Sebuah perjalanan romantis hanya kami berdua. Dia mendengarkan lagu yang sama dengan yang kusuka. Membaca buku-buku favoritku. Seakan tak pernah habis topik pembicaraan di antara kami.

 

Akan tetapi awan hitam di langit kami berdua ternyata berkunjung dalam hitungan bulan. Tentu saja di awal hubungan aku tidak naif dan merasa hubungan kami akan selalu baik-baik saja. Pasti di selanya ada argumen, ketidak-sepahaman, pertengkaran. Semuanya terasa normal. Tapi kemudian awan hitam ini terasa berbeda. Ini bukanlah pertengkaran dalam hubungan biasa. Tiba-tiba dia bisa memiliki mood yang berubah-ubah. Dalam satu hari dia bisa berada di atas langit, bersikap layaknya pasangan idaman lalu persekian detik dia berubah total menjadi peran antagonis. Segala keputusannya dalam satu waktu sangatlah impulsif bahkan tergolong berbahaya. Apalagi amarahnya. Tak dapat terbendung hingga membuatku amat takut berada di dekatnya.

 

Ketika dia merasa senang, dia akan memperlakukanku layaknya Juliet untuk sang Romeo. Namun seringnya saat dia berada dalam suasana hati yang buruk, dia bisa menyakitiku baik fisik sampai verbal. Pertengkaran kami semakin lama semakin intens dan semakin lama aku merasa kesehatan jiwaku mulai terkuras. Setiap kali kami berargumen, aku merasa seperti tergeletak di lantai, berdarah-darah dan dia menginjak-injak sebelum menghabisiku. Kalau aku tidak mau mendengarkannya, dia akan mengancam. “Kalau kamu tidak angkat telepon, aku akan bunuh diri!”, katanya untuk yang ke sekian kali. Dia seakan mencintaiku hanya untuk satu menit kemudian membenciku lagi. Dia bisa tiba-tiba takut kehilanganku tapi kemudian mencoba untuk menyingkirkanku dari hidupnya.

 

Aku tidak menyadari bahwa aku berada di hubungan yang tidak sehat. Sulit rasanya untuk pergi dari sana. Aku selalu merasa dia akan berubah menjadi lebih baik. Menjadi seseorang yang dulu aku cintai dan dapat mengalahkan sisi buruknya. Aku menderita dalam rasa kepahlawananku di mana aku merasa aku bisa membantunya berubah dengan mengorbankan diriku dalam proses perubahannya. Setelah satu tahun dalam hubungan rollercoaster aku menemukan dia ternyata selingkuh. Betapa kecewa sekaligus malu diri ini merasa aku telah menjadi pahlawannya selama ini ternyata dia justru punya orang lain. Bisa-bisanya aku mendapatkan perlakuan tidak layak hampir setiap waktu dan berpikir dia akan menjadi lebih baik namun di waktu yang sama dia justru sedang bersama mantan kekasihnya.

 

Inilah pertanda. Aku tidak bisa lagi menahan diri untuk pergi dan konstan memutuskan hubungan. Aku mendadak pergi berlibur bersama teman-temanku, mengunjungi keluargaku dan berusaha menyembuhkan segala luka. Aku berharap ketika nanti sampai di rumah kembali aku akan hidup tenang. Tapi ternyata tidak demikian. Mimpi buruk itu berlanjut..

 

Dia ternyata menguntitku, mengirim banyak pesan dan meneror lewat telepon. Dia bahkan datang ke kantorku sambil menangis memohon untuk kembali. Saat aku menolak dia mulai bersikap dramatis, dia berteriak-teriak, dan mennyambarku dengan umpatan-umpatan. Belum lagi suatu malam, aku sudah bersiap tidur ketika mendengar ada suara di ruang keluarga. Aku langsung panik karena dia tiba-tiba sudah berada di depan pintu kamarku, berdiri tegak, terlihat sangat aneh dan berkata, “Aku akan membunuhmu.” Aku membatu, tidak bisa melakukan apa-apa. Anehnya lagi, ancamannya itu berlaku tidak lama sebab seketika itu juga dia berlutut dan menangis. Sekali lagi dia memohon untukku memaafkannya dan kembali padanya.

 

Tentu saja aku tidak akan kembali padanya. Sebaliknya aku memastikan penjagaan di sekitar rumahku. Aku mengganti nomor telepon. Meski itu juga tidak berhasil. Dia tetap mendapatkan nomorku dari teman kami. Setelah tragedi pembobolan rumah dia masih sering meneleponku dengan ancaman, “aku masih mengawasimu”. Sejak saat itu aku tidak pernah mengangkat telepon dengan nomor tidak dikenal. Butuh beberapa bulan sampai akhirnya dia benar-benar menghilang. Lebam ditubuhku pun mulai sembuh walaupun masih ada bekas luka di beberapa bagian tubuh hingga sekarang.

 

Aku tidak takut atau marah padanya lagi. Butuh waktu lama untuk aku memahami apa yang sebenarnya terjadi dan aku tidak bisa terus-terusan menyalahkannya. Dia menderita penyakit kejiwaan dan aku berharap suatu saat dia akan lebih baik, sembuh dan kembali bahagia. Aku pun tidak lagi menyalahkan diriku sendiri akan apa yang terjadi. Bukan karena aku bodoh tidak bisa lepas darinya atau terlalu baik untuknya. Aku sudah memaafkan semuanya.

 

Terdapat sebuah lagu dari musisi Amerika MoZella yang sangat bisa menggambarkan apa yang aku rasakan padanya sekarang: 

“I think I cried for days/ But now that seems like light years away/ And I’m never going back to who I was/ I don’t blame you anymore/ That’s too much pain to store/ It left me half dead inside my head/ And boy, looking back I see I’m not the girl I used to be/ When I lost my mind, it saved my life.”

 

***

 

Temukan kisah lain penulis di  www.katrinfigge.com 

Ilustrasi oleh @sabinaka

Baca juga: Perceraian Mereka Pelajaran Berharga

 


Booking.com