Nov, 27 2019



Gaslighting: Kekerasan Verbal dalam Hubungan

Author Aulia Meidiska


Pernahkah kamu berada dalam hubungan di mana pasanganmu seringkali komplain tentang apa yang kamu lakukan? Hingga akhirnya kamu percaya kamu adalah pribadi dengan banyaknya sisi negatif. 

 

Informasi tentang Gaslighting disadur dari greatmind.id

 

Adalah wajar jika dalam sebuah hubungan terdapat argumen antar pasangan. Juga masih tergolong wajar jika ada salah satu yang mengeluhkan sikap pasangannya. Tapi jika keluhannya itu secara konstan berkelanjutan hingga kamu menyerah, mengakui dan memercayai bahwa kamulah pihak yang salah, mungkin saja kamu sebenarnya sedang berada dalam hubungan tidak sehat. Pasalnya banyak sekali macam hubungan tidak sehat yang bisa ditandai oleh kekerasan fisik, verbal, maupun mental. Kekerasan fisik atau verbal sangatlah mudah dikenali namun tidak dengan kekerasan mental. Apalagi jika kita termasuk seseorang dengan kepercayaan diri yang rendah. Salah satu kekerasan mental yang sulit dikenali adalah Gaslighting di mana perilaku pasangan yang manipulatif bisa membuat kita berada dalam kendalinya.

 

Terminologi Gaslighting sendiri berasal dari film yang berasal dari tahun 40-an. Cerita film tersebut berpusat pada pasangan suami istri yang berada di situasi di mana sang suami melakukan pencucian otak pada istri dengan memberikan suntikan pemikiran negatif tentang dirinya secara terus-menerus. Sang istri pun akhirnya memercayai kepribadian yang dituduhkan oleh sang suami dan terus berpikir dialah pihak yang salah atas apapun masalah yang terjadi di antara mereka.

 

Kurangnya pengetahuan tentang jenis kekerasan verbal ini memang sulit sekali membuat kita sadar bahwa kita bisa dimanipulasi dan memanipulasi. Biasanya gaslighter atau pihak yang memanipulasi adalah mereka yang amat karismatik, diplomatis, dan memiliki kemampuan untuk bisa mendominasi pikiran orang lain. Secara tidak sadar pun sebenarnya mereka punya isu kejiwaan yaitu melakukan kekerasan tanpa sadar. Hubungan manipulatif ini bisa terjadi di kala salah satu di antara mereka memiliki kepercayaan diri yang rendah. Sehingga terciptalah hubungan ketergantungan di mana dia membutuhkan pengakuan atau persetujuan sang gaslighter dalam segala hal. Akhirnya apapun yang dia pikirkan tidak lagi penting. Yang terpenting adalah apa yang pasangannya pikirkan saja. Di dalam hubungan itu sendiri dampaknya tidak terlihat. Namun ketika putus, barulah sangat terasa. Biasanya dalam kasus ini tentu saja sang gaslighter adalah pihak yang akan memutuskan. Akibatnya apa? Sang korban hubungan manipulatif pun akan sulit sekali menerima orang baru dalam hidupnya karena merasa kepribadiannya dibentuk oleh sang gaslighter sehingga seringkali merasa tidak layak mendapatkan orang lain.

 

Lalu sekarang bagaimana kalau kita bisa tahu berada di hubungan semacam ini? Tanda yang paling terlihat adalah kita akan seringkali mempertanyakan diri. Dimulai dengan pertanyaan, “Apa ya saya orang yang begitu?”. Misalnya dalam kasus label needy yang diberikan oleh sang pasangan. Label needy ditujukan untuk orang yang memang selalu meminta banyak hal pada pasangannya dan berulang-ulang. Jika pasangan kita bukan gaslighter dia pasti akan membuka komunikasi dua arah dan menghargai opini di proses diskusinya. Dia akan mencoba memberikan contoh tentang mengapa label itu diberikan pada kita. Tapi kalau dia seorang gaslighter biasanya dia tidak akan menghargai proses diskusi dan akan langsung menolak argumen kita. Langsung saja menyambar kita dengan bilang, “Kamu needy banget sih!”, tanpa mendiskusikan alasannya mengapa.

 

Menyalahkan diri sendiri adalah tanda selanjutnya. Label negatif itu ada di dalam pikiran dan kita akan merasa bersalah hampir setiap saat. Kita akan selalu meminta maaf pada dia dan menyalahkan diri sendiri karena kita merasa itulah kepribadian buruk kita. Bahkan kita tidak bisa lagi membela diri sendiri. Terakhir adalah kita akan seringkali membela pasangan kita di depan banyak orang. Perasaan bersalah dan kurangnya kepercayaan diri tersebut membawa kita pada pembelaan mati-matian terhadap pasangan. Jika ada seseorang yang mencoba menyadarkan kita akan sikapnya yang buruk, kita tidak akan setuju dan membenarkan si pasangan. Lalu kembali menyalahkan diri sendiri karena menganggap kita-lah yang selalu salah. Kita lah yang harus berubah. Seakan-akan kita yang bertanggung jawab melindungi reputasi sang pasangan demi tidak kehilangan dia dalam hidup kita.

 

Kini cobalah kembali meninjau ulang hubungan kalian dan sadari pernah tidak ini terjadi dalam hubungan kalian. Atau pernah tidak tahu ada seseorang yang di dekat kalian mengalami ini. Jika ada, coba untuk berikan pemahaman tentang gaslighting. Semoga tidak ada di antara kita yang dapat dimanipulasi lagi.

 

Illustrasi oleh @maria_alethea

Baca juga: Dia yang Membuatku Sulit Pergi

 


Booking.com