Dec, 02 2019



Bayangan Keluarga dalam Pernikahan

Author Aulia Meidiska


 

Menikahinya berarti menikahi keluarganya. Benarkah?


 

Seperti yang kita tahu di Indonesia pernikahan adalah sesuatu yang amat sakral di mana bercampur dengan adat, budaya, serta agama. Perayaannya yang kadang sengaja dibuat megah pun menjadi tipikal pernikahan ala orang Indonesia. Begitu juga dengan pernyataan bahwa menikahi pasangan kita berarti kita menikahi seluruh keluarganya. Pemahaman ini seperti begitu melekat dengan orang Indonesia. Sulit sekali untuk melepaskan partisipasi keluarga dari pernikahan kita. Sepertinya tak mungkin (bagi kebanyakan orang) merayakan pernikahan tanpa keluarga besar turut campur tangan. Tak bisa sekadar menikah dengan resepsi kecil cukup dengan orang tua dan teman-teman terdekat. 

 

Begitu pula ketika sudah berada dalam bahtera rumah tangga. Terkadang masih saja peran orang tua, kakak, adik, keluarga ipar, bahkan keluarga besar begitu terlibat dalam hubungan pernikahan kita. Padahal yang menjalaninya adalah kita dan pasangan. Lalu bagaimana menghadapi bayangan keluarga dalam pernikahan tanpa harus berlaku kasar apalagi seperti tidak menghiraukan mereka?

 

Teruntuk mereka yang belum menikah tapi sudah serius dan mengarah ke pernikahan, curilah hati orang tua pasangan sedini mungkin. Ya, kamu tidak sempurna tapi bukan berarti kamu tidak bisa memberikan impresi baik pada calon mertua, bukan? Hal-hal kecil saja yang bisa kamu tawarkan. Misalnya, menjadi teman bicara. Pada dasarnya orang tua itu butuh teman ngobrol. Ketika sudah tua apalagi ketika anaknya sudah sibuk dengan kehidupannya sendiri mereka merasa kehilangan anaknya. Ambilah peran pasanganmu untuk menjadi teman bicara mereka. 

 

Kalau memang tidak ada kesamaan, dengarkan saja apa yang mereka bicarakan. Tidak perlu terlalu dimasukkan ke hati soal apa yang mereka tidak suka. Cukup meng-iya-kan dan berusaha melakukan yang terbaik. Soal berhasil memenuhi atau tidak itu urusan pasangan denganmu. Berusahalah memahami jalan pikir mereka, nantinya mereka juga berusaha mengerti kita. Syukur kalau sudah suka nanti di perjalanan pernikahan lebih mudah tanpa perlu kontroversi dengan mereka.

 

Teruntuk mereka yang sedang mempersiapkan pernikahan: banyak-banyak berpikir positif dan ikhlas. Bilanglah pada diri sendiri bahwa alasan mereka punya aturan adalah karena mereka peduli. Tidak ada gunanya meributkan sesuatu yang tidak perlu menjelang pernikahan. Jika mereka memang berkontribusi dalam biaya, berikanlah mereka peran untuk merasa puas akan biaya yang telah dikeluarkan. Tapi jika tidak cobalah komunikasikan pada mereka bahwa kamu memiliki keinginan tersendiri dalam menyelenggarakannya dan minta mereka untuk menghormati keputusanmu. Ingat, mereka itu orang tua jadi kalau bisa jangan pakai nada tinggi. Bagaimana pun juga mereka pasti merasa kita-lah yang harus menurut.

 

Teruntuk mereka yang sudah dalam bahtera rumah tangga. Sebagian orang merasa cukup terganggu dengan kehadiran orang tua atau bahkan keluarga besar yang terlalu ikut campur dalam rumah tangganya. Hakekatnya, kita tidak bisa mengendalikan atau mengatur mereka untuk begitu saja pergi dari hidup kita dan tidak lagi mengurusi pernikahan kita. Itulah mengapa hubunganmu dan pasangan diuji di fase ini. Bagaimana kalian bisa menjadi satu tim yang kuat dan kokoh untuk bisa menghadapi aturan keluarga yang tidak pas untuk diterapkan di keluarga kecil kalian. 

 

Diskusikan dengan pasangan apabila kamu merasakan sesuatu yang kurang nyaman soal keluarganya atau keluargamu yang terlibat dalam keputusan rumah tangga kalian. Ingatlah bahwa yang menjalani hubungan pernikahan adalah kalian berdua. Yang tahu seperti apa rumah tangga nan bahagia juga hanya kalian berdua. Jadi kalian punya tanggung jawab untuk mengatur keharmonisan keluarga sesuai yang kalian tanamkan

 

Penting juga untuk diingat adalah bahwa keluarga sebenarnya tidak akan memasuki ranah rumah tangga kalian kalau kalian tidak membuka celah. Maksudnya adalah saat kalian punya masalah dengan pasangan jangan sampai orang tua apalagi keluarga besar kalian lebih tahu terlebih dahulu daripada pasangan sendiri. Berusahalah untuk simpan berdua masalah yang sedang dihadapi dan cari solusinya bersama. Membawa mereka dalam masalah kalian hanya akan membuat mereka merasa punya andil dalam memberikan solusi pada kalian berdua. 

 

Selain itu, upayakanlah untuk memiliki rumah atau tempat tinggal sendiri ketika sudah memutuskan untuk menikah dan berkeluarga. Bagaimana pun kalian perlu punya kewajiban suami istri yang berbeda dengan keluarga lain termasuk keluarga kalian sendiri. Sedangkan hidup menyatu dengan orang tua hanya akan mendatangkan berbagai masalah. Semakin banyak kepala dalam satu rumah akan semakin banyak suara yang dapat mendatangkan beragam argumen. Terutama nantinya kala kalian memiliki anak. Akan semakin rumit rasanya jika harus membesarkan anak dengan banyaknya pengaruh kakek-neneknya. Apa yang mereka ajarkan tentu saja akan berbeda dengan apa yang kita ajarkan ke anak kita. Dari sanalah mulai timbul opini siapa yang lebih tahu dari siapa. 

 

Walaupun terasa tidak menyenangkan, tapi kita harus bisa melihat sisi positif dari keberadaan orang tua dan keluarga di kehidupan pernikahan. Merekalah yang mungkin nanti bisa menolong ketika kalian berdua membutuhkan pertolongan. 

 

“Bersyukurlah menjadi orang Indonesia dengan kentalnya ikatan kekeluargaan. Itu berarti banyak yang sesungguhnya peduli pada kita. Tinggal bagaimana kita menyikapi mereka dengan bijak dan tahu bagaimana membatasi keterlibatan mereka dalam hubungan pernikahan kita.”

 

Ilustrasi oleh @maria_alethea

Baca juga: Gaslighting: Kekerasan Verbal dalam Hubungan

 

TAGS :   keluarga   pernikahan   menikah   pasangan   orang tua    


Booking.com